Sunday, May 21, 2006

Black May 1998: 8th Commemoration (4 of 4)

Masa Lalu Ada di Sini
by: Maria Hartiningsih
Kompas, Friday, May 12, 2006 (Teropong Nasional - page 39)

Tragedi Mei di satu sisi juga membangkitkan solidaritas lintas ras, kelas, agama, dan etnis. Masa-masa itu juga merupakan kebangkitan intelektual, khususnya perempuan, untuk menolak rasisme dan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan.

Meskipun pengungkapan mengenai kasus-kasus pemerkosaan masih tetap sulit, dan teror serta ancaman masih terus dilancarkan, banyak penulis, penyair, artis, pekerja seni, melahirkan karya-karyanya untuk mengekspresikan keprihatinan mereka dan menyelenggarakan kegiatan kebudayaan.

Ilmuwan susastra Melani Budianta mencatat, pada tahun 1999, cerpen Seno Gumira Ajidarma mengenai pemerkosaan dalam kerusuhan Mei dibacakan di banyak kampus di berbagai kota di Jawa, sebagai bagian dari upaya membangkitkan kesadaran melawan rasialisme dan kekerasan terhadap perempuan.

Pada bulan Juli 1999, para seniman teater menyelenggarakan diskusi publik pertama di Taman Ismail Marzuki Jakarta dengan topik China di Indonesia.

Diskusi yang penuh keterbukaan itu merupakan yang pertama setelah 30 tahun, berlangsung damai, diakhiri pembacaan puisi dan doa bersama di depan lukisan untuk memperingati setahun tragedi Mei.

Peristiwa yang bak halaman kosong dalam sejarah resmi bangsa ini diisi dengan penuh imajinasi oleh sastra. Marga T tahun ini akan meluncurkan Nozuma III.

Novel ini mengisahkan tentang gambaran mengerikan yang telah diketahui luas: perkosaan brutal yang dialami seorang perempuan Tionghoa di Indonesia, pembunuhan saksi yang akan melakukan testimoni di New York dan testimoni yang tidak manusiawi dari psikolog – akibat tekanan yang berwajib – untuk menyatakan bahwa korban meninggal akibat penyimpangan seksual oleh ayahnya sendiri.

Richard Oh, salah satu dari novelis pertama Indonesia yang menulis dalam bahasa Inggris, menulis Pathfinders of Love pada tahun 1999, yang merangkai cerita dengan bahan-bahan yang didapatkan dari berbagai kejadian yang beredar di kalangan teman dan aktivis.

Dengan cara bertutur yang novelistik, Seno Gumira Ajidarma dalam Clara dan Yusrisal KW dalam Imajinasi Buruk melalui narasinya mengisahkan tentang kebenaran hakiki yang sulit dipahami.

Chavchay Syaifullah, penulis novel Sendalu, menurut Melani, mengakui ia menulis cerita tentang bagaimana seseorang menjadi pemerkosa karena dibayang-bayangi peristiwa yang sangat buruk, setelah bertemu dengan laki-laki yang dengan bangga membual tentang keterlibatannya dalam tragedi Mei sebagai pemerkosa bayaran.

Semua ini memperlihatkan bagaimana sejarah bisa ditulis dengan cara lain…..

Dari benua lain, seorang perempuan terus berteriak mencari keadilan melalui berbagai tulisan. “Aku mengalami peristiwa yang jauh dari norma keadaban manusia pada tanggal 14 Mei di pinggir jalan sekitar Jelambar. Duniaku terbalik hanya dalam waktu kurang dari satu jam….”

Saat itu, Kenanga, sebut saja begitu, sedang mempersiapkan ujian negara untuk mendapatkan gelar dokter. “Dan bulan depan… aku menikah. Usiaku 26… Aku tidak tahu siapa yang membawaku ke rumah sakit. Ketika tersadar, aku merasakan kesakitan yang luar biasa di bagian bawah perut. Aku bahkan sama sekali tidak bisa menggerakkan kedua kakiku. Aku sangat ketakutan dan berharap ini hanya mimpi buruk. Aku terus berkata pada diriku, ‘Aku harus mempersiapkan ujian negara, Waktunya tinggal 11 hari…’”

Kenanga berangkat ke benua lain pada bulan Januari tahun 1999. Luka batinnya menganga dalam. Ia mengalami penderitaan yang menetap karena organ reproduksi di bagian bawah tubuh yang mencirikan simbol keperempuanannya, dihancurkan.

Psikiaternya di tempat yang baru itu memintanya untuk terus menulis untuk mengungkapkan segenap perasaannya. Satu tulisannya masuk dalam daftar pendek sutau kompetisi penulisan yang diselenggarakan oleh suatu yayasan internasional untuk orang cacat. “In my case, womb damage….”


Menolak Pelupaan
Bagi kelurga korban tewas yang distigma sebagai “penjarah” dan dikambinghitamkan dalam kerusuhan Mei, perjuangan melawan pelupaan dipahami sebagai perjuangan melawan otoritarianisme.

Salah satu cara untuk terus mengingat adalah melakukan kegiatan setiap tahun di tempat-tempat di mana banyak korban tewas. “Tetapi, saya belum bisa upacara tabur bunga di mal, karena belum berani masuk mal,” ujar Ruminah, tentang upacara setiap tahun di halaman Mal Citra Klender yang dibangun di atas bekas reruntuhan Jogya Plaza.

Ruminah adalah ibu dari Igun (12) yang tewas ketika Jogya Plaza di Klender dibakar pada tanggal 14 Mei 1998. Diperkirakan, sekitar 400 orang dewasa dan anak-anak tewas di tempat itu.

Perempuan ini adalah salah satu warga yang menyaksikan apa yang terjadi sebelum Jogya Plaza dibakar. Ia melihat dengan jelas bagaimana bangunan besar itu dibakar, dan menengarai tipe orang-orang yang melakukannya.

Ia sempat dikejar sebuah mobil kijang ketika memutuskan pergi ke kantor polisi Pulo Gadung untuk melaporkan hilangnya Igun. “Ada cewek… ada cewek….” Ia mendengar teriakan laki-laki di dalam mobil itu. Karena melihat gelagat tidak baik, ia bersembunyi dibalik semak-semak. Mobil kijang itu berhenti. Penumpangnya berusaha mencari, tetapi gagal. “Saya mendengar mereka menumpat ‘diancuk’!”

Igun “ditemukan” di RSCM di antara tumpukan mayat yang terbakar. Di situ Ruminah menyaksikan pemandangan yang sangat mengerikan. “Ada mayat seorang ibu yang sedang hamil,” ujarnya.

Meski tidak terlalu yakin mayat yang ia bawa pulang itu adalah mayat Igun, ia tetap bertekad membawanya. Niatnya membuatkan makam buat Igun supaya kalau rindu bisa mengunjunginya setiap saat.

Sekitar 12 hari setelah Igun dimakamkan, beberapa kali ia menerima telepon dari orang tak dikenal pada tengah malam. Ia diancam untuk tidak bercerita kepada siapapun soal musibah yang ia alami.

Selama beberapa bulan Ruminah mengalami trauma yang serius. Ia tidak bisa makan, tidak bisa tidur. Berkat bantuan dokter, kondisi fisiknya mulai pulih, tetapi tidak kondisi kejiwaannya.


Menolak Pembandingan
Dalam proses penyembuhan itu, ia bertemu dengan para relawan yang mendampinginya. Ruminah kemudian mengalami proses pembangkitan kesadaran tentang peristiwa politik di balik tewasnya Igun. Sejak itu, ibu empat anak itu memasuki dunia aktivisme.

Bergandengan tangan dengan keluarga korban yang lainnya, ia merasakan berkeringat dalam terik matahari ketika melakukan aksi. Cintanya kepada Igun bertransformasi menjadi energi untuk memperjuangkan hak korban dari berbagai peristiwa politik.

Dengan pemahamannya tentang kerusuhan Mei, Ruminah menolak kalau korban yang tewas dalam kerusuhan Mei dibandingkan dengan perempuan Tionghoa korban perkosaan. Ia tidak mau membandingkan penderitaan. Ia juga memahami penderitaan keluarga korban pemerkosaan dan penyerangan seksual yang tidak berani bersuara sampai sekarang.

Namun, perjalanan mencari keadilan dan menegakkan kebenaran adalah perjalanan sangat panjang dan terjal. “Sepertinya tidak ada perubahan. Saya sering lelah,” ujarnya, seraya memaparkan upayanya supaya tidak kehabisan energi.

Apalagi, banyak keluarga korban sudah jarang berkumpul karena disibukkan oleh upaya menyiasati hidup yang kian sulit. “Cari kerja susah. Banyak orang susah makan. Saya juga semakin sering waswas dan cepat bingung kalau anak saya terlambat pulang,” sambungnya.

Namun, Ruminah tidak berhenti. Ketika dihubungi Kamis (11/5) malam, ia masih berada di Kantor Kontras (Komisi Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan), organisasi nonpemerintah tempat ia ikut melakukan aktivismenya.

Di situ ia bertemu teman-temannya dan para aktivis. Di situ, nyala harapannya dijaga. Di situ pula ia menguatkan keyakinannya akan apa yang dikatakan penyair Chile, Pablo Neruda, “Action is The Mother of Hope.”

Black May 1998: 8th Commemoration (3 of 4)

Tragedi Mei 1998: Menyelamatkan Ingatan
by: Maria Hartiningsih
Kompas, Friday, May 12, 2006 (Teropong Nasional - page 38)

….. Sungguh menakjubkan: waktu, datang dalam kedipan, berlalu dalam kedipan, tak ada sebelum dan tak ada sesudah, lalu kembali menjadi momok yang mengusik ketenangan. Halaman itu terus-menerus dihilangkan dalam pusaran waktu, dibuang dan dihapus – tiba-tiba berdenyut lagi di dalam ingatan. Dan manusia mengatakan, “Aku mengingat…” (Nietzsche, The Use and Abuse of History)

Ketika ditemui beberapa waktu lalu, Mirah mengeluh sulit tidur dan merasa tertekan. Pekerja kemanusiaan yang aktif membantu korban kerusuhan Mei di Jakarta tahun 1998 itu mengatakan, “Perasaan aman menghilang, dan saya diliputi kecemasan.”

Ibu dua anak yang kini berusia 52 tahun itu baru menyadari penyebabnya setelah seorang temannya menelepon dan mengingatkannya peristiwa delapan tahun lalu. “Sebenarnya saya selalu mengalami hal seperti ini setiap bulan Mei tiba,” ujarnya.

Meskipun tidak ada satupun tetenger yang disisakan dari prahara kemanusiaan tersebut, Mirah tak pernah mampu membuang ingatan itu. Selama sewindu terakhir, ratusan pusat perbelanjaan dan apartemen modern terus dibangun. Bekas-bekas reruntuhan dan bau hangus daging terpanggang itu secara perlahan menguap, menjelma menjadi katedral konsumtivisme dengan bau wangi yang mengambar.

Gemuruh alat berat terus berlangsung dari pagi hingga pagi lagi untuk menimbun sisa-sisa ingatan akan ketakutan, kecurigaan, dan nestapa. Para perencana kota itu tampaknya lupa bahwa kejelitaan wajah kota tak bisa menghilangkan bayangan monster di dalam ingatan banyak warganya.

“Semakin saya berusaha melupakannya, bayangan itu semakin jelas,” ujar Mirah. Bayangan gadis yang lumpuh karena dilemparkan dari lantai tiga sebuah ruko di bilangan Jatinegara yang ia antar untuk mendapat bantuan pengobatan di Australia masih di pelupuk mata.

Juga bayangan seorang ibu dan anaknya yang menggantung diri serta seorang perempuan lain yang terjun dari apartemen di Australia setelah mengalami pemerkosaan dan penyerangan seksual di Jakarta. Bayangan tentang seorang gadis yang tak berhasil diselamatkan karena mengalami pendarahan hebat juga tak pernah pergi dari ingatannya.

“Saya merasa bersalah karena tidak mampu menyelamatkan mereka. Perasaan itu susah sekali hilang. Saya sering menangis, sedih, takut, dan cemas, enggak keruan. Ini masih terus terjadi sampai sekarang, meskipun sedikit lebih cair,” ujar Mirah.

Hal yang sama dialami Siska (46), sebut saja begitu. Ia masih terus terbayang-bayang kondisi korban penyerangan seksual yang meninggal dalam pelukannya dan seorang perempuan korban yang bertahan dan berhasil melewati masa-masa yang paling kiritis dalam hidupnya.

“Aku cenderung menyalahkan diri terus-menerus. Sempat punya pandangan negatif terus sama orang lain, marah, dan sedih berlarut-larut,” ujarnya.

Lebih parah lagi karena penderitaan psikologis akibat vicarious trauma (trauma akibat trauma orang lain) itu membawa berbagai penyakit yang cukup serius. Ia harus mencari cara sendiri untuk mengelola traumanya. “Kalau aku tidak berlatih yoga dan meditasi, habislah aku…..”


Mencemaskan
Pekerja kemanusiaan yang lain, seperti Melati (60-an) dan Menur (40-an), malah merasa situasi beberapa bulan terakhir ini kian mencemaskan. “Malah akhir tahun lalu sempat terdengar rumor seperti yang terjadi beberapa waktu sebelum kerusuhan Mei di beberapa bagian Jakarta,” ungkap Menur.

Rasa ketidakamanan itu boleh jadi merupakan imbas dari teror terhadap para pekerja kemanusiaan, dokter, petugas rumah sakit, dan warga Tionghoa saat dilakukan pencarian kebenaran tentang terjadinya pemerkosaan dan penyerangan seksual terhadap perempuan etnis Tionghoa dalam kerusuhan Mei di Jakarta.

Laporan Tim Relawan untuk Kemanusiaan mengatakan, jauh di bawah pusaran sengketa politik yang terjadi saat itu, terus berlangsung cara-cara teror dan ancaman dengan pola lama: brutal, sistematis, penuh kekerasan, dengan mengerahkan para preman, aparat dan orang-orang bayaran.

Situasi itu membuat banyak orang memilih diam, meski ia menyaksikan perbuatan keji itu. “Situasinya tegang sekali. Banyak ancaman dan jebakan yang dilakukan secara kasar sampai yang paling canggih,” kenang Ester Jusuf dari Solidaritas Nusa Bangsa.

“Tiba-tiba ada telepon, suara perempuan menangis, memberitahu anaknya diperkosa. Mereka kasih alamat, ternyata disana tidak ada apa-apa. Malah tiba-tiba ada sekelompok orang mengaku sebagai wartawan memprovokasi kita supaya mengeluarkan pernyataan tentang pemerkosaan,” sambungnya.

Mirah merasa terus diikuti saat menjalankan kerja kemanusiaan. “Kamar hotel teman dari organisasi yang akan membantu korban dirawat di Australia diobrak-abrik. Selalu ada orang yang mengawasi ketika kita berbicara di lobi,” ujarnya.


Tanpa Jejak
Dari tahun ke tahun, semakin banyak korban dan keluarganya yang tidak diketahui lagi jejaknya. “Bahkan yang survive pun hilang,” sambung Menur.

Itu juga yang dialami Lena (71). Satu dampingannya yang masih bertahan hidup dalam ingatan tak penuh, Sien Nio, sebut saja begitu, menghilang dari tempat ia rawat di wilayah Jakarta Utara sejak Desember tahun lalu. Perempuan itu ditemukan dalam keadaan shock berat dan nyaris telanjang dengan memar di sekujur tubuh. Ia dikerumuni empat laki-laki pada petang tanggal 14 Mei 1998.

Keluarganya tidak diketahui ada di mana. Terakhir ia dititipkan selama tiga tahun di sebuah tempat rehabilitasi pengguna narkoba. Tampaknya juga tidak ada ahli jiwa yang terus mengikuti perkembangannya. Ketika ditemui setahun lalu, tatapan matanya masih kosong. Bicaranya ngelantur.

Banyak pula keluarga yang sudah tidak mau berhubungan lagi dengan para pendamping. Entah karena kecenderungan ingin melupakan hal-hal yang buruk dalam hidup, entah karena masih dibayangi terus oleh kecemasan dan ketakutan.

Ketakutan, prasangka, dan rasa tidak percaya itu terus terjadi meskipun pemerintah melalui Presiden BJ Habibie pada tanggal 15 Juli 1998 menyatakan penyesalan mendalam atas terjadinya kekerasan terhadap perempuan saat kerusuhan Mei dan mengutuk berbagai aksi kekerasan pada peristiwa kerusuhan di berbagai tempat.

Toh, pernyataan itu tidak mengakhiri kontroversi terjadinya pemerkosaan dan penyerangan seksual terhadap perempuan etnis Tionghoa, bahkan terus disangkali. Ini tampak dari terjadinya perpecahan anggota Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang dibentuk pemerintah tanggal 23 Juli 1998.

Lalu muncul suara-suara yang membandingkan signifikansi besarnya korban tewas di pusat-pusat pertokoan yang jumlahnya mencapai lebih dari 1.200 jiwa (data Tim Relawan) dengan “hanya” 52 korban pemerkosaan yang berhasil diverifikasi.

Suara yang bernuansa adu domba itu mengambinghitamkan semua korban. Mereka menempelkan stigma penjarah terhadap korban yang tewas dan keluarganya, serta melekatkan trauma dalam hidup korban pemerkosaan dan juga keluarganya.

Penyangkalan terjadinya pemerkosaan terhadap perempuan etnis Tionghoa juga tampak dengan ditolaknya laporan dari Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Masalah Kekerasan terhadap Perempuan, Radikha Coomaraswamy, yang menjawab soal “bukti”. Namun, laporan itu ditolak Pemerintah Indonesia dalam sidang di PBB.

Ahli hukum dari Universitas Padjadjaran, Prof Dr Komariah, mengatakan perangkat hukum di Indonesia masih belum menanggapi pemerkosaan dalam situasi kerusuhan atau konflik sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan. Tidak ada kriminalisasi terhadap pelaku, dan menganggap pemerkosaan dalam situasi seperti itu sebagai tanggung jawab individual.

Pemahaman tentang “bukti” dari pemerkosaan yang mengalami pembaruan dan sistem peradilan internasional sama sekali belum menyentuh sistem dan pranata hukum di Indonesia.

Komariah menyayangkan temuan TGPF yang belum ditindaklanjuti sampai saat ini. Padahal, dalam temuan itu jelas disebutkan bahwa sebagian besar kasus pemerkosaan adalah gang rape.

Laporan TGPF yang diverifikasi oleh oleh Tim Ad Hoc bentukan Komnas HAM setebal 6.000 halaman yang distempel, dilegalisasi ini terus terombang-ambing antara Komnas HAM dan Kejaksaan Agung. Berkas itu dikirimkan ke kejaksaan tahun 2003, tetapi dikembalikan lagi ke Komnas HAM karena dianggap “belum lengkap”. Tahun-tahun berikutnya, pembicaraan tentang berkas itu makin menyurut.

“Selama sisa rezim yang represif masih ada, selama itu pula kebenaran sulit mendapatkan tempat. Sekarang perlindungan HAM semakin terpuruk. Banyak orang ketakutan karena banyak kekerasan dilakukan atas nama HAM,” ujarnya.

Ketakutan, kecemasan, dan hasrat untuk membuang seluruh pengalaman buruk dari hidup adalah pupuk yang sangat subur bagi upaya pelupaan dan impunitas. Beberapa halaman sejarah dari perjalanan bangsa ini, untuk waktu yang panjang, tampaknya masih akan terus terbiar dengan tumpahan tinta hitam. Dan bangsa ini tampaknya masih terus ketakutan menatap wajahnya sendiri…..

Black May 1998: 8th Commemoration (2 of 4)

May 14, 2006
Prof Dr Franz Magnis-Suseno: Optimis 75 Persen
By: B Josie Susilo Hardianto

Perhelatan ulang tahun Prof Dr Franz Magnis-Suseno pada petang hari Jumat, 12 Mei 2006, berlangsung sederhana di halaman Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta.

Perayaan itu ditingkahi guyuran hujan, juga getar suasana yang mengingatkan pada prahara kemanusiaan di Jakarta dan di beberapa kota di Indonesia, delapan tahun lalu.

Sulit menengarai apakah ia gembira atau kikuk dengan perayaan itu. "Saya memang tidak terbiasa dengan perayaan ulang tahun seperti ini," ujarnya. Hal yang lain adalah, karena sebenarnya hari itu bukan tanggal kelahirannya.

Romo Magnis—begitu ia disapa—lahir tanggal 26 Mei 1936 sebagai anak pertama dari lima bersaudara, di desa kecil di Jerman Timur, Eckerdorf, Silesia, Kabupaten Glatz, daerah paling timur Jerman yang menjorok ke Polandia.

Ketika teman-temannya ingin merayakan ulang tahunnya ke- 70, muncullah soal itu. Tanggal 18 Mei Romo Magnis sudah berangkat ke Jerman untuk tiga bulan. Sudah pasti acara tidak mungkin berlangsung pada hari H.

"Mereka ragu-ragu memajukan tanggal, karena buat orang Jawa berarti menantang. Tetapi saya bilang, tidak usah takut, majukan saja. Kematian saya sudah diputuskan di atas jauh sebelum ulang tahun saya ke-70," ujarnya di ruang kerjanya yang penuh buku di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, pekan lalu.

Kepergiannya ke Jerman kali ini tampaknya sangat berarti karena ia akan mengunjungi lagi desa kelahirannya.

"Saya pernah kembali tahun 1992. Kebetulan ada ziarah beberapa rohaniwan dengan umat kelahiran di situ," sambungnya. Kali ini pun ada yang menawari, karena sulit pergi sendiri dengan uang saku yang sangat terbatas.

Desa itu termasuk tiga wilayah yang diserahkan ke Polandia dan Rusia pasca-Perang Dunia II.

Hubungan dengan Polandia secara politis masih terganggu, "Karena Polandia tidak pernah minta maaf atas pengusiran 3,5 juta orang Jerman dengan sangat kejam. Sama kejamnya dengan Jerman dulu memperlakukan orang Yahudi," ujar Romo Magnis. Suaranya terasa bergetar.

Beruntung keluarganya sudah mengungsi ketika peristiwa itu terjadi. Usianya saat itu delapan tahun. Namun keluarganya harus kembali mengalami pengusiran oleh Ceko karena tinggal di daerah Jerman-Ceko. Setelah perang, Ceko masih membersihkan tiga juta orang Jerman.

"Dari 14 juta orang Jerman termasuk yang di Polandia, Romania, Hongaria yang diusir, sampai dua juta yang mati. Cukup banyak juga," sambungnya.

Sejarah di Jerman itu menguatkan keyakinannya bahwa proses menuju kebangkitan demokrasi tidak linier. Itu sebabnya ketika diminta berbicara di panggung kemarin malam ia merasa optimis 75 persen dengan masa depan Indonesia.

"Yang dulu diramalkan tidak baik, tidak terjadi," ujarnya. Memang Indonesia mengalami kekecewaan-kekecewaan, tetapi banyak hal yang baik yang juga dicapai.

"Dulu pembicaraan tentang disintegrasi sangat keras, sekarang menyurut. Fanatisme ada, tetapi sekarang justru tampak ke arah hubungan yang lebih akrab antar-agama dibandingkan 20-30 tahun lalu. Memang ada ambivalensi, tetapi kita tidak perlu takut," katanya.

Optimisme ini tidak tercetus secara eksplisit dalam wawancara khusus dengan kami.

Saat itu ia mengingatkan beberapa hal serius yang dihadapi bangsa ini.

"Pancasila adalah kunci bagi kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Penyalahgunaan oleh Orde Baru bukan berarti Pancasila jelek. Hanya Pancasila yang menerima pluralitas bangsa," ujarnya.

Moralitas budaya yang dituangkan dalam pola-pola sempit ideologis akan menggerogoti kreativitas, kekuatan, dan keuletan kultural bangsa.

Seluruh masalah itu tidak lepas dari proses modernisasi yang secara mendadak merusak struktur-struktur masyarakat tradisional, dan kelas bawah mendapat bagian paling buruk. Cara hidup, keterampilan, juga keprigelan sosial tidak tertampung, sehingga mereka terisolasi.

"Kesosialan dan gotong royong menghilang. Setiap orang hanya bisa hidup kalau secara individual mempunyai kontrak kerja, atau punya sawah untuk bekerja ," sambungnya.

Orang di kampung mungkin masih cukup merasakan kebersamaan tetapi tidak sangat membantu kalau dia tidak setiap hari bekerja dan mendapat upah.

"Ini individualisasi. Lalu orang dengan segala macam kesopanan, tradisi saling membantu, dilempar ke kota besar. Maka rakyat kecil hidup di dalam kediktatoran kompetisi yang keras. Ya dia pun menjadi keras."

Romo Magnis memberi contoh tukang parkir yang berebut lahan dan menggunakan kekerasan. Itulah hukum di jalan.

Korupsi elite ia lihat sebagai masalah paling besar saat ini. "Gagasan melayani rakyat tidak ada, dan saya kira ini masih sisa dari feodalisme. Jadi kita mempunyai masalah pada elite, bukan pada rakyat," tegasnya.

Situasi internasional dan sikap hegemonial Amerika juga membawa suatu suasana yang pengaruhnya sampai ke Indonesia.

"Ideologi sekuler sudah kehilangan daya tarik. Yang tinggal adalah agama. Jadi kita mengalami reagamanisasi, tetapi sering dalam bentuk yang sempit," ia menyambung.

Ungkapan goodwill yang mengharukan dari pejabat tinggi negara, menurut dia, tidak mencukupi untuk menunjukkan upaya pembangunan ekonomi rakyat, penegakan hukum, dan sikap terhadap sektarianisme.

Ia berharap akhir tahun ini sudah kelihatan terang di akhir terowongan. Kalau tidak situasi akan menjadi lebih serius. "Sekarang saatnya berbuat," katanya.

Sebagai pemerhati budaya Jawa melalui pewayangan, Romo Magnis melihat situasi Indonesia saat ini, "Masih gonjang-ganjing. Zaman edan sedikit."

Tokoh wayang yang diperlukan adalah Brotoseno, simbol orang yang mau bertindak.

Apa pun yang terjadi, Romo Magnis tidak menyesal menjadi warga negara Indonesia. Inilah Tanah Air keduanya—ia menjadi warga negara Indonesia tahun 1977—yang ia pilih untuk memberikan baktinya pada kemanusiaan.

"Andai bukan warga negara Indonesia, saya akan sulit melakukan apa yang saya lakukan sekarang. Mungkin saya masih bisa menulis buku filsafat, memimpin misa dan sebagainya, tetapi mungkin saya sulit mengidentifikasi situasi bangsa dan negara."

Sebagai warga negara Indonesia ia merasa cukup diterima. "Tak ada yang keberatan saya tidak total kehilangan identitas Jerman. Orang sering bilang ’Romo Magnis lebih Jawa dari orang Jawa’. Itu sebenarnya sama saja mengatakan, ’Romo lebih baik, tetapi tetap tidak seperti orang Jawa’ ha-ha-ha...."

Jawa adalah "gerbang budaya" memasuki Indonesia tahun 1961. Berbeda dengan sajak Rudyart Kipling "The Strangers" yang dikutip ilmuwan susastra Melani Budianta, Romo Magnis memasuki gerbang halaman budaya "Yang Lain" dengan "kulonuwun", dengan empati, tanpa menghakimi.

Saat memberikan orasi bertema "Masyarakat Terbuka" dalam perayaan itu, Melani mengatakan, banyak orang Jawa mengenal diri dan mendapatkan rumusan konseptual yang bermakna, justru dari buku-buku yang ditulis Romo Magnis tentang kejawaan.

Ini dikuatkan oleh ahli etika dari Universitas Atma Jaya, Alois A Nugroho. Ia mengaku belajar Jawa dari Romo Magnis, bukan dari kerabatnya yang ahli Jawa.

Begitu menjadi warga negara, Romo Magnis merasa perlu mengindonesiakan namanya. Ketika Romo Kuntoro, koleganya yang ahli Jawa, menyebut nama Suseno, ia langsung merasa cocok, karena "Bunyinya enak."

"Orang mengira Seno berasal dari Brotoseno atau Ontoseno. Bukan. Tokoh wayang kesayangan saya adalah Karno (saudara seibu Pandawa, tetapi di pihak Kurawa). Dia tokoh yang menarik, simpatik, tragis sedikit."

Sekitar 10 tahun lalu, Romo Magnis menemukan nama Karno adalah Basuseno Suryoputro. "Ada Suseno-nya ternyata. Jadi saya terhibur."

Jadilah namanya Franz-Magnis Suseno. Gelar kebangsawanannya, Graf, sudah dihilangkan sejak masih memegang paspor Jerman.

Kenapa? "Susah, nanti dianggap sama dengan Steffi Graf haha-ha-ha...."

Awal tinggal di Indonesia, Romo Magnis sempat menjadi pendamping SMA Kanisius Jakarta 1962-1964. Muridnya antara lain menjadi politisi ternama, seperti Akbar Tandjung dan Marzuki Darusman.

"Saya kira mereka cukup baik. Kita tidak bisa berharap politiknya sama seperti yang kita kehendaki," ujarnya.

Kini di usianya yang ke-70, Romo Magnis masih naik vespa ke mana-mana. Ia memilih vespa karena bersih, jarang rewel mesinnya dan ada ban serep. "Pencuri juga tidak tertarik ha-ha...."

Padahal, ia beberapa kali jatuh dari vespa, malah sempat dua kali dirawat di rumah sakit karena itu. Pernah Vespa-nya diseruduk mobil. Tetapi ia berdiri tenang sementara Vespa-nya nyelonong.

Ia juga pernah lupa meninggalkan anak yang diboncengkan. Karena menduga anak itu jatuh dari Vespa, ia bingung dan lalu menelepon ke unit gawat darurat di banyak rumah sakit.

Kedisiplinannya banyak menjadi inspirasi. Hari-harinya yang penuh tidak mengurangi waktunya untuk berolahraga. Sampai sekarang ia masih mendaki gunung. Hampir seluruh gunung di Jawa sudah ia daki. Pekan lalu mendaki Gunung Gede, tetapi tidak sampai ke puncak.

"Cuma untuk latihan supaya tahu apa saya masih bisa naik gunung di Jerman. Persoalannya, kalau naik masih bisa, tetapi saya kurang yakin apa bisa turun. Apa artinya bisa naik kalau tidak bisa turun?"

Orang bisa mengartikan kalimat itu secara harfiah, karena ia memang punya persoalan di kaki, yang membuatnya tidak bisa lagi lari mengitari kompleks perumahan di sekitar STF. Namun bagi yang memahami siapa Romo Magnis, kalimat itu bisa berarti lain.

Sulit memisahkan Romo Magnis dari STF Driyarkara. Ia tidak cuma membidani lahirnya pada tanggal 1 Februari 1969. Tetapi ia juga membangun dan membesarkan "ruang publik intelektual" itu dengan penuh kesetiaan.

Dengan mengenakan kemeja batik, satu dari kemejanya yang "itu-itu saja", dalam perayaan kemarin, ia menyebut nama mereka yang membantu STF satu per satu.

Di antaranya, Prof Dr Fuad Hasan yang bersedia mengajar tujuh mahasiswa pertama.

"Honornya Rp 800 satu jam ya Pak... Rp 1.600 untuk dua jam," kata Magnis. Kepada Prof Dr Toety Heraty, ia memberi potongan tumpeng secara khusus.

Usman Hamid dari organisasi nonpemerintah Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) mengingatkan bahwa Romo Magnis adalah salah satu penggagas Kontras bersama almarhum Munir, dan beberapa tokoh agama yang lain, saat sistem politik di Indonesia berada di puncak kerepresifan, tanggal 20 Maret 1998.

Pernyataan Usman ditanggapi dengan menyatakan, tindakan itu didorong oleh keinginannya untuk mencari tahu keberadaan Petrus Bimo Anugrah, salah satu muridnya yang "hilang".

Jadi ada alasan kemanusiaan di balik keterlibatannya di wilayah-wilayah yang "berbahaya" itu. Bahwa pilihannya sering kali membuat dia berada di wilayah "perbatasan" yang berisiko, itu juga tidak bisa dimungkiri.

Melani mengingatkan, Romo Magnis tidak enggan berhadapan dengan pihak yang bertentangan pendapat dengannya, dan mengajak berdiskusi tanpa mengubah posisi atau prinsipnya. Itu juga terjadi ketika bukunya tentang Marxisme kena sweeping gerakan antikomunis.

Tampaknya ia tak punya ketakutan dan keraguan atas pilihan-pilihannya dalam hidup. Ketika ditanya apakah dia menyukai kehidupannya, ia menjawab, "Saya merasa pada tempatnya."

Mungkin itu termasuk bahwa ia tidak pernah patah hati dan tidak pernah mematahkan hati orang. Itulah jawabannya ketika ditanya seorang remaja dalam misa minggu panggilan di Kapel Kanisius Jakarta, Minggu (7/5) pagi.

Black May 1998: 8th Commemoration (1 of 4)

It's May again... for the 4-season countries on the northern hemisphere, it is the spring time – a rejuvenation period of the nature's cycle – when we can see the flowers bloom, we can smell the trees, flowers, and the spring breeze,.. when we know for sure that there's "an opening" and "a closure" for the cycle of season.

However, May Tragedy or also known as Black May has yet a closure – May always brings one of the darkest collective memories in Indonesia, especially Jakarta. It is already sewindu (one cycle that equals to eight years in our time), but no one was ever brought to justice, we have not got any satisfactory closure to this tragedy.

Following are what I can collect as a commemoration to this tragedy... we need to keep the spirit on, we cannot forget what happened during that time to the victims of May 1998 until the victims and their families as well as Ibu Pertiwi get justice. It is in Indonesia language. These series of writings provide us with perspective about the Indonesia's current stage in relation to this tragedy and reformation. For my CCEVI friends who are going to hold May Memorial in Toronto on May 27, I wish you the strength and perseverance to keep on doing this.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

May 11, 2006
Seni Budaya
Kambing Hitam Reformasi dalam Ketoprak

by: Susi Ivvaty


Tuku brondong diwadhahi kanthong/ Bagong kejeglong kesenggol bokong/ Timbang ndomblong mendhing nyonthong/ Ngomong-ngomong negara kobong [Membeli brondong dimasukkan kantong/ Bagong terperosok tersenggol bokong/ Daripada bengong lebih baik ngomong/ Membicarakan negara yang sedang kobong (terbakar)].

Kidungan Tjap Tjonthong itu mengawali pertunjukan ketoprak berjudul Putri China oleh Kethoprak Ringkes Tjap Tjonthong Djogdjakarta, Selasa (9/5) di Bentara Budaya Jakarta. Pertunjukan yang digelar bersama-sama pameran lukisan Hari Budiono dan pameran foto wartawan Kompas tersebut diusung Kelompok Kompas Gramedia untuk memperingati sewindu reformasi.

Ketoprak Putri China merefleksikan peristiwa di negeri Pedang Kemulan menjelang kejatuhan Prabu Amurco Sabdo. Putri China dijadikan kambing hitam untuk mengalihkan persoalan dan melanggengkan kekerasan.

Isinya serius, tetapi kemasannya sangat jenaka, khas ketoprak. Dengan bahasa separuh Jawa separuh Indonesia, ketoprak "mini pemain" ini membuat penonton yang memadati pelataran Bentara Budaya Jakarta tak berhenti terbahak-bahak.

Kelompok yang terbentuk pada tahun 2004 ini memang lahir dari sebuah kegelisahan. Budayawan dan rohaniwan Sindhunata kemudian turut serta memberi ide-ide—dengan mencairkan isi suatu teori tertentu—untuk berbagai pentas kelompok ini. Dengan humor satir, kelompok ketoprak ini mengangkat isu-isu kekerasan dengan enteng.


Negeri kacau
Diawali dengan gunungan dalam siluet, pertunjukan mulai memotret sebuah negeri antah-berantah yang tidak tata, titi, tentrem, dan karta raharja (tenteram dan sejahtera). Prabu Amurco Sabdo (diperankan Den Baguse Ngarso) di Kerajaan Pedang Kemulan digambarkan sebagai sosok yang tamak dan berkuasa.

Suatu ketika Prabu beserta Senopati Gurdo Paksi (Marwoto Kawer) dan Patih Gagak Abang (Novi Kalur) tengah berkumpul, membicarakan negeri yang makin kacau karena banyak demonstrasi. Ketiganya lalu berpesta.

Namun, ketika para demonstran makin mendekati istana, Raja kebingungan dan memerintahkan Gurdo Paksi dan Gagak Abang menghabisi mereka. Namun, Gurdo Paksi menolak. Ia kemudian menjumpai Sioe Lien, warga keturunan Bangau Putih, yang sedang resah.

Keresahan meluas lantaran beredar kabar bahwa semua warga Bangau Putih akan dimusnahkan. Sementara warga Bangau Putih diperkosa dan dibantai, Sioe Lien ditangkap, dijadikan kambing hitam permasalahan.

Para demonstran berhasil menyerbu istana dan Gurdo Paksi memaksa Raja untuk lengser. Raja pun terpaksa lengser dan memilih orang lain menjadi raja baru (yang tetap diperankan oleh Den Baguse Ngarso). Intinya, raja berganti, tetapi karakternya tetap sama saja. Orangnya bisa berbeda, tetapi peraturan dan ketamakannya sama saja.

Adegan ini pun oleh mereka masih bisa dibuat kocak. "Lho, kok Prabu lagi?" tanya Marwoto. Den Baguse menjawab, "Pemainnya kurang."

Sindiran kocak memang selalu disisipkan dalam setiap adegan ketoprak ini, yang istilah Jawanya guyon parikeno. Novi Kalur berkata, "Kemiskinan di negeri ini berkurang, dari 40 persen menjadi 15 persen." "Yang 25 persen?" tanya Den Baguse. "Mati semua," jawab Novi. "Bagus. Kalau begitu, yang 15 persen dibunuh sekalian," timpal Den Baguse.

Soal demonstrasi, mereka juga menyindir, "Uyak uyuk, lari ke sana kemari dibayar Rp 25.000. Nggebuk (memukul) polisi Rp 150.000."

Mereka juga menyuguhkan dagelan segar sesuai karakter para pemainnya. Marwoto dengan umpatan-umpatannya yang khas, Kirun yang terus mengoceh, juga Den Baguse yang biasa melawak dengan intonasi yang khas, sedikit tetapi mengena.

Lontaran jenaka tersebut, misalnya, ketika Den Baguse berkata, "Justisia non erektus, keadilan tak bisa ditegakkan," yang lalu dijawab oleh Marwoto, "Four health five completely, empat sehat lima sempurna." Ya tidak nyambung.


Kambing hitam
Pergelaran Putri China ini berbarengan dengan diluncurkannya buku karya Sindhunata, Kambing Hitam: Teori Rene Girard, di Bentara Budaya Jakarta dan Balai Pemuda Surabaya. Lakon Putri China sendiri diangkat dari bagian terakhir buku itu.

"Bagian itu membahas, bagaimana rivalitas manusia meledak menjadi kekerasan di tanah Jawa ini mau tak mau harus dikosongkan. Pengosongan itu ditimpakan kepada kelompok yang kebetulan etnis Tionghoa, dan terstigmakan sebagai kambing hitam," kata Sindhunata.

Pemimpin Umum Kompas Jakob Oetama dalam orasi budayanya mengatakan, orang mempunyai kecenderungan meniru orang lain dan ini menimbulkan rivalitas. "Rivalitas ini menimbulkan kekerasan dan pada akhirnya akan mencari kambing hitam." Siapa yang mau menjadi kambing hitam?