Wednesday, November 22, 2006

Membisu

Mungkin dengan gusar
kaucela kurangku
Haruskah aku mundur?
Apakah sayatan tajam sedingin kaca es
sanggup tembus api hatiku?
Haruskah aku menyerah
dan tak naik pitam?

Tidak!
Aku akan berontak dan teriak

Tapi
salahkah aku jika
gelapkan suasana
dengan untaian kata pahit
yang buatmu luka dan terhina
jadi sekering pasir
terbang
dan dengan tenang, menghilang.

Jangan tanyakan mengapa
aku membisu
Disini, aku tinggal
sehamparan mawar segar yang
meliuk di bawah selimut saljumu
teka-teki yang tak terjawab
di salah satu sudut hatimu
Takdir yang tertulis:
lelaki adalah es
dan perempuan adalah api.

Aku

Malam tanyakan siapa Aku
Aku adalah gelap yang tak terselami,
rahasia resah yang berjalan
Aku adalah angin teduh yang gelisah
Kucadari diri dengan diam
Kubungkus hati dengan kesangsian
Khidmat, kutatap
usia yang tanyakan siapa Aku

Angin tanyakan siapa Aku
Aku adalah roh yang terungkit
Disangkal oleh Sang Waktu, tanpa tujuan
Kujelajahi tanpa puas
Kulewati tanpa henti
Dan ketika kusampai ke tepian
Kupikir ini mungkin akhir
Penderitaan, tapi: kosong!

Waktu tanyakan siapa Aku
Aku adalah rahasia yang ingin rengkuh abad
Yang nanti akan lahirkan hidup
Pernah kucipta lalu yang suram
Dari kebahagiaan serakan harapan
Kusurukkan semua,
kembali ke dalam kubur hati
Yah, untuk dapatkan kemarin yang indah
mungkin akan kucicip esok nan dingin

Diri tanyakan siapa Aku
Tercengang,
Kuterbelalak dalam gelap...
Tiada yang berikan damai hati
Kubertanya, namun jawaban
sembunyi dalam tempurung khayal
Kupikir dia dekat,
dapat kuraih?
Ketika tangan kuulurkan,
dia larut, dan hilang!

Kata

Kuingin menulis dalam bahasa angin
Ingin ciptakan lidah baru
dengan rasa nan beda
bahasa yang menari,
bahasa yang memabukkan sepanjang jalan,
bahasa yang sanggup dekap pepohonan,
bahasa yang dapat jalan di atas air,

Sebuah bahasa
yang bakar dunia,
dan kumpulkan daun-daun musim gugur

Jika kuperintahkan kata untuk mati,
lalu tumpuk onggokan masa lalu, kini, dan kelak
sambil katakan pada matahari:
Bakar timbunan kata-kata itu!

dan katakan pada bumi:
Kubur debunya!

dan katakan pada debu:
Debu-Kata,
tampilkan lidah si ahli sihir

untuk suruh api:
Jadilah Kata
untuk suruh Kata:
Jadilah Puisi

karena tanpa Kata
apa yang dapat dibaca, dilihat, dan didengar?

Saturday, November 11, 2006

Andrea Hirata’s Pure Love

Indonesia is a land of paradox. We see, hear and read a lot of things related to corruption, mismanagement, natural disasters, injustice, discrimination, poverty, ignorance, etc. – all negative forces. However, there are also great and admirable things happening at these very minutes. And, the following story is just one among those great and admirable things happening in the country.


Tidak pernah ada yang bisa mengalahkan kekuatan cinta yang murni dan tulus. Cinta yang mendalam menebarkan energi positif yang tidak hanya mengubah hidup seseorang, tetapi juga menerangi kehidupan orang banyak.

By: Khairina
Source: Kompas Daily Newspaper, Saturday, November 11, 2006, page 16


Kemurnian cinta pula yang mendorong Andrea Hirata Seman (33) memuliakan guru sekolah dasarnya di SD Muhammadiyah, Belitong Timur, Bangka Belitung.

Terkesan ketulusan hati sang guru, sejak duduk di kelas III SD, Andrea berjanji membuat buku tentang guru itu. Niat itu baru terlaksana lebih dari 20 tahun kemudian, saat ibu Muslimah, guru itu, akan berulangtahun ke-59 pada 2005.

Buku setebal lebih dari 500 halaman dia susun dalam tiga minggu. Hasil ketikan itu lalu dia fotokopi 12 kali dan dia beri kepada ibu Muslimah dan 11 rekannya semasa kecil, yang dia kenal sebagai Laskar Pelangi.

Seorang temannya iseng-iseng mengirimkan karya Andrea itu ke penerbit. Dalam waktu beberapa minggu saja buku berjudul Laskar Pelangi (Penerbit Bentang, 2005) itu laris manis dan langsung dipajang di deretan buku-buku yang tergolong “best seller”.

“Saya enggak menyangka, banyak juga yang senang dengan buku seperti ini. Dulu, saya kira buku yang enggak ada gue-elu-nya enggak bakal laku,” ujar Andrea merendah.


Mengobati kehausan
Buku karya Andrea seolah mengobati kehausan para pencinta buku akan buku-buku Indonesia bermutu. Di tengah banyaknya buku bertema sejenis, entah remaja, percintaan, seks, atau kriminalitas, buku Andrea memberi pencerahan bagi pembaca.

Ide yang diusung Andrea sederhana. Andrea menceritakan kehidupan 11 anak sangat miskin, tetapi kreatif yang bersekolah di sekolah miskin di pulau kaya timah, Belitong. Begitu miskinnya orangtua mereka, sehingga Lintang – salah satu dari 11 anak itu – terpaksa berhenti sekolah karena harus membiayai hidup ibu, lima adik, dua pasang kakek-nenek, dan dua paman. Kini, Lintang hanya menjadi sopir truk tronton.

Padahal, Lintang adalah anak paling pintar dan paling bersemangat dalam menuntut ilmu. Dia tidak pernah membolos kendati harus mengayuh sepeda sejauh 40 kilometer ke sekolah. Beberapa kali rantai sepedanya putus dan dia bahkan terpaksa berhadapan dengan buaya, tetapi semangat Lintang untuk sekolah tidak pernah padam.

Kisah Lintang begitu menghanyutkan emosi Andrea. Dia mengaku menangis tiga malam saat menuliskan kisah kehidupan sahabatnya itu.

“Saya ingin menunjukkan masih ada Lintang-Lintang lain di Indonesia. Banyak anak-anak pintar yang tidak memiliki kesempatan,” ujar lajang yang kini bekerja sebagai analis di PT Telkom Bandung ini.

Andrea yang dalam buku itu dikisahkan sebagai Ikal berasal dari keluarga kurang mampu. Ayahnya, Seman Said Harun Hirata (73), adalah pensiunan pegawai rendahan PN Timah, sementara ibunya, Masturah (70), adalah ibu rumah tangga. Empat abang dan satu adiknya menekuni profesi seperti umumnya kaum marjinal di Belitong, yaitu sebagai penambang tradisional.

Kontras dengan kemiskinan warga asli Belitong, PT Timah digambarkan Andrea sebagai perusahaan berduit dengan lingkungan orang-orang berduit juga. Tergambar jelas jurang antara warga asli yang miskin dan petinggi PN Timah yang kaya.

Andrea seolah mendobrak tradisi dan keluar dari lingkaran kemiskinan warga Melayu di Belitong. Setelah sempat menjadi kuli panggul di pasar dan tukang sortir surat di kantor pos, Andrea berhasil mendapat beasiswa S-2 di Sheffield Hallam University, Inggris, dan lulus dengan predikat graduate with distinction. Tesisnya diadopsi menjadi buku.


Memberi inspirasi
Keberhasilannya, diakui Andrea, tidak bisa dilepaskan dari semangat dan daya juang yang ditularkan kedua gurunya semasa SD serta rekan-rekannya di Laskar Pelangi. Kobaran semangat ditambah kasih sayang di sekolah melecut Andrea untuk lebih baik. Maka buku inipun, ujar Andrea, dipersembahkan bagi rekan-rekannya dan kaum marjinal lain di seluruh Indonesia.

”Mudah-mudahan, mereka yang kini tengah berjuang tidak menyerah dan tidak kalah,” ujar Andrea yang novelnya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu dan segera menyusul ke dalam bahasa Jepang dan Inggris.

Dan, Laskar Pelangi serta buku keduanya, Sang Pemimpi, terbukti menggerakkan hati banyak orang. Para pakar pendidikan berdiskusi memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia, mengacu pada buku itu.

”Mungkin baru sekarang ada novel yang dijadikan acuan perbaikan sistem pendidikan,” kata Andrea yang mengaku sebelumnya tidak pernah menulis satu cerita pendek pun.

Novel ini juga memberi inspirasi seorang janda buruh di Cakung mengayuh sepeda belasan kilometer sehari karena bertekad mengentaskan kebodohan yang melilit anak-anaknya. Dia mengajari sendiri anak-anaknya berhitung dan membaca agar bisa menjadi lebih baik.

Andrea juga bertekad mamajukan pendidikan di Belitong Timur. Royalti dari buku digunakan membangun perpustakaan di Belitong Timur.

”Di kampung saya enggak ada perpustakaan, apalagi toko buku. Kalau mau beli buku, kami terpaksa ke Tanjung Pinang di Bangka,” ujar pria yang sempat tiga kali berganti nama itu.

Andrea juga mendatangkan beberapa pengajar dari Bandung untuk membimbing pelajar miskin Belitong Timur yang akan mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa baru.

”Anak-anak di kampung saya pintar-pintar, tetapi tidak mampu. Jangankan bimbingan belajar, untuk sekolah saja sulit. Saya ingin memberikan kesempatan yang sama bagi mereka,” kata Andrea.