Saturday, November 13, 1999

Bahaya Narkoba

Teman-teman, aku ingin share sedikit mengenai bahaya narkoba. Aku menceritakannya karena kutahu tak lama lagi anak-anak anda pasti berangkat remaja, suatu masa penuh dengan tanya dan pencarian diri.

Selama ini dalam benakku, narkoba hanya "berjangkit" pada anak2 yang broken home, orang yang patah hati, atau prostitusi. Tetapi, ternyata banyak anak keluarga baik-baik rentan pula terhadap bahaya narkoba.

Adalah sebuah keluarga saleh. Sang bapak dan ibu menyediakan segalanya yang terbaik untuk anak-anaknya. Mereka punya 3 anak lelaki, semuanya sudah dewasa ~ yang bungsu sudah kelas 2 SMU. Sejak kecil ajaran agama diterapkan dalam rumah dengan benar. Dua kali seminggu seorang ustad akan datang untuk memberikan pelajaran shalat dan mengaji yang benar. Mereka juga disekolahkan di salah satu sekolah terbaik, Al Azhar di Jakarta Selatan. Walau demikian anak ke-3 mereka akhirnya kena narkoba. Hal ini terjadi bukan karena si anak sengaja mencoba narkoba, tapi karena bisnis ini sedemikian licin sehingga cara "pemasaran"nya pun cukup licin.

Bermula dari sebuah pesta anak SMU (yang kebanyakan punya pesta 17-an). Disana dibagikan rokok dengan cuma-cuma untuk setiap yang hadir. Apakah anda akan curiga kalau yang membagikannya adalah kawan anda sendiri? Biasanya malam seperti itu digunakan untuk menjerat pemakai baru, karena narkoba akan dihidangkan secara gratis dalam "kemasan" yang tidak berbahaya. Korban anak muda cukup mudah dijerat dengan "peer pressure" dan perasaan ingin coba-coba hal baru. Nah, malam itu si anak tidak pulang ke rumah. Alasannya sudah terlalu malam, tidak ada yang mengantarkan karena rumah terlalu jauh dan teman-teman sudah lelah. Subuhnya baru si anak pulang, dan paginya sudah berangkat sekolah.

Tiga bulan berselang, orang tua dapat panggilan dari guru ~ menanyakan apakah sang anak punya banyak kerja di rumah karena selalu mengantuk dikelas. Anak masih dapat berkelit kalau dia belajar hingga larut malam. Beberapa bulan sesudahnya orang tua dapat panggilan lagi. Sang anak sudah sering bolos sekolah. Ketika dikonfrontir, anak lepas kendali. Dan ketahuanlah kalau seluruh lengan sang anak sudah penuh dengan bekas jarum suntik narkoba. Dia menyuntikkan narkoba ke tubuhnya 3x sehari. Ibunya langsung pingsan dan ayah hampir lepas kendali karena kecewa. Tapi kasih orang tua memang sepanjang jalan... Sang anak lalu dimasukkan ke RS.

Hal ini berulang kali terjadi, 5 kali dalam hitungan sang ayah. Setiap kali keluar dari RS, hanya tahan beberapa hari. Sesudah itu kembali lagi kepada kebiasaannya untuk mengkonsumsi narkoba. Tiap kali tindakannya makin berani, mulai dari mencuri, hingga menghajar orang lain untuk mendapatkan uang. Karena sudah hampir putus asa akhirnya sang anak dimasukkan ke Permadi Siwi. Dapatkah anda bayangkan "barikade" yang cukup ketat di Permadi Siwi dapat ditembusnya untuk keluar mencari "makanannya." Biasanya untuk sampai ke kamar korban narkoba kita harus melewati 3 lapis pintu berjeruji besi,... langit-langit kamar pasienpun umumnya diberi pelapis besi.

Sang anak akhirnya dapat ditemukan, sambil berlinang air mata, sang ayah bertanya: "Apakah kau masih ingin sembuh dan hidup?" Pendek kata sang anakpun berkeinginan untuk sembuh. Tapi, inilah jahatnya narkoba,... there is no learning by doing,... you either try it or not at all. Si anak sendirimengatakan sangatlah susah untuk berketetapan hati menjadi sembuh pada saat "sakaw". ("Sakaw" adalah istilah ketika penderita berada dalam kesakitan luar biasa karena tubuhnya sudah nagih diisi narkoba. Sakitnya seperti kuku jari dilepas tanpa dibius! Atau, seperti seluruh persedian tubuh anda mau lepas.) Istilahnya lebih baik membunuh orang daripada kena sakaw. Kendala lain adalah "sugesti," ini istilah mereka juga. Setahunpun setelah anda sembuh keinginan untuk kembali mengkonsumsi akan sangat besar, terutama jika anda bertemu lagi dengan teman-teman "sepermainan" atau melewati "tempat-tempat" nostalgia "berpesta", bahkan rumah sendiri sekalipun.

Menurut sang ayah sebuah rumah telah digadaikannya demi kesembuhan sang anak. Kengerian lain dari narkoba adalah: efeknya yang merusak saraf utama dan bersifat menurun. Karena saraf utama yang diserangnya, maka jangan anda harapkan siapapun yang sembuh dari narkoba akan punya kemampuan fungsional seperti sediakala. Dan, distribusinya dalam darah akan mempengaruhi kualitas anak yang akan lahir jika ia berkeluarga nanti. Bayangkan akibatnya bagi generasi mendatang!

Anda pikir anda bisa keluar dengan aman jika anda sudah masuk dalam lingkaran sindikat? (Sindikat termasuk pengedar juga pemakai) Sekali lagi tidak ada kata learning by doing disini,... anda masuk dan selamanya disana, atau mati. Mati bisa karena berbagai sebab: tubuh anda sendiri tidak sanggup menghadapinya, atau "kecelakaan" karena berbagai hal, atau overdosis. OD (overdosis) biasanya terjadi pada "pesta perpisahan" pemakai. Jadi, kalau anda katakan ingin berhenti (and you mean it)... mereka sih OK-OK saja. Mereka akan menyelenggarakan pesta untuk anda, pesta perpisahan katanya. Disana untuk terakhir kalinya anda diminta untuk bersama-sama menikmati narkoba. Biasanya dosis yang diberikan bisa berlipat-lipat,... dan matilah anda, OD!

Harap teman-teman waspada, kenalilah anakmu, kenali temannya, dan jadilah temannya. Jika anda tahu ada sindikat di sekitar anda langsung lapor polisi (walau tidak menjamin sindikat bakal habis ditangkap). FYI, Indonesia sekarang bukan hanya jadi mata rantai perdagangan narkoba, tapi sudah masuk dalam kategori produsen. Di suatu daerah di selatan Jakarta menghasilkan 2.4 juta butir ecstasy per bulan!!!

Semoga cerita ini bermanfaat.

1 comment:

didut said...

thanks buat infonya .... good info :D