Monday, May 24, 1999

Negara Serikat? Siapkah Kita?

Ulasan berikut pernah beredar di milis alumni Mahasiswa Teknik Geologi "GEA" ITB.

Saya juga kurang lebih setuju dengan Pak Ari... Bukan nggak mau negara federal atau serikat, tapi apakah kita punya kemampuan untuk jadi negara federasi. Dan, maksud saya bukan hanya ditinjau dari sudut SDA* saja.

Do we have the capacity of power to be dispersed among many sources, but still retain a cohesive central character? Somewhow the real problem is to get the cohesion in a country of so many races, so many local languages and religions and so many backgrounds of one kind or another. What can become of us if we return to categorize and divided people by place of birth, races, ethnicities, religions, etc.? That's not what federalism all about.

Moreover, modern federalism is an enormously complicated thing - it's far and away the most sophisticated of all forms of government. It makes the greatest demands on the intelligence, ability and wisdom of men. It distributes power on two different levels between governments and make it work! It also means that if anyone who are unhappy in Jakarta or Bandung could always go to Ambon or to Bali or to Aceh, and if they were unhappy there, they could go to Timtim and Manado, and so forth. Well, then, OK, fine, ... we're going our own ways, Timtim, Aceh, Irja, etc. But, can you sleep well knowing for sure once you "desperately acting wise" you let people killed each other? The country falls apart. Can we deprived the people once we call brothers/sisters of their own prosperity just because we cannot bear "this overbearing" regime corps of conduct? I would say "No".

Guys, the dream has always been EQUALITY. Even in federal states. And, can we overcome the danger of aristocracy to get that equality? There are a bunch of aristocrats rule this country. That's why democracy is in the most tyrannical form of government we've ever known.

Have some hope however little, we all wait for the light at the end of the tunnel!

Note: SDA* adalah singkatan dari Sumber Daya Alam.

Tuesday, May 11, 1999

Black May 1998

Berikut adalah puisi-puisi lamaku yang akhirnya kumunculkan kembali - di Poet Society Club ACNielsen Indonesia - untuk memperingati setahun tragedi kemanusiaan Black May 1998 di Indonesia. Kuperuntukkan bagi mahasiswa dan segenap akademikus Indonesia yang berhati-nurani memperjuangkan Reformasi.


Khayalkan laut...
sekering randu pucat
Khayalkan dedahanan...
yang sudi henti sekejap,
berikan tempat bertengger bagi sang murai
Dan, di masa datang
Khayalkan mati...
dalam kias pucat terpasi
Biarkan yang mati
hidup kembali.


TERJEPIT

Mereka telah mati...
wariskan pecah kepingan hak
yang mereka tenun dalam dagingku
dan dianyam tembus bumbung darahku
Kadang kuterbungkuk
di bawah kebesaran moyang.

Tapi, kini Masa getarkan dinding
lenyapkan batas,
dan ciptakan jalan lahir,
mendenging jauh...

Tepat di pusat hidupku
Kemerdekaan bersinar,
lahirkan bangsa
benihkan garam makna

Biarkan darah kenangan
terjaga dan isi rongga waktu
Mari maju
lintasi gerbang baru

Monday, May 10, 1999

Amnesia

AMNESIA

Air mataku berlinang
terus dan terus
ketika kuharus tiup roh anakku
Anakku?

Pantaskah kau kupanggil anakku
dan aku ibumu...
jika setiap bayangan akan gerakmu
buatku muntah dan gemetar

tak dapat kubayangkan
kau sesuci bayi cinta
hasil khayalan remajaku
juga tidak sebagai
karunia Cinta Kasih Nya

karena kau ada
ketika aku harus dihina
karena kau ada
ketika aku harus dikutuk
karena kau ada
ketika aku harus jadi tempat untuk laku biadab
karena kau ada
ketika nista ini dianggap dusta

Wajah setan-setan
Teriakan setan-setan
Tubuh setan-setan
Tubuh Teriak Wajah Setan

Wajah setan yang menari-nari
Wajah setan yang terbahak-bahak
Teriakan kotor setan yang membahana
Tubuh setan jalang
hadir,
dalam tiap kejap mataku
dalam tiap helaan nafasku
dalam tiap detak jantung dan ingatan warasku

Air mataku berlinang
terus dan terus
Tubuhku gemetar
tak berkesudahan
Napasku tercekat
bagai tercucuk batu

Mohon mukjizatMu, oh Tuhan
Buat aku gila,
buat aku lupa,
atau buat aku mati

Pergilah anakku,
aku benci hadirmu
aku benci bayangkan
sebuah hidup
yang buatku berpikir untuk mati

Maka dengan
linangan air mata,
kertak gigi,
dan tangan terkepal
kuhembuskan roh kematian dalam dirimu
pergilah, nak
aku tak pernah menginginkanmu

(suara hati NN korban perkosaan Black May 1998, Jakarta)

Untuk memperingati setahun tragedi kemanusiaan 13-15 Mei 1998 di Indonesia.