Friday, December 05, 2008

Maryamah Karpov

Ini buku ke empat Andrea Hirata dalam tetralogi Laskar Pelangi, buku yang ditunggu-tunggu banyak orang. Bertumpuk-tumpuk buku ini tersedia di toko-toko buku bertepatan dengan peluncuran secara resmi buku ini. Aku sungguh ingin tahu apa isinya – sampul bukunya menjanjikan bahwa buku ini berisi semua hal tentang Laskar Pelangi, A Ling, Arai, Lintang, dan beberapa tokoh dalam buku-buku sebelumnya. Bahkan di atas judul Maryamah Karpov ada sub judul ‘mimpi-mimpi Lintang’.

Memang ada cerita tentang Lintang dan Arai tapi buku ini lebih bersifat sebagai mozaik berbagai cerita tokoh-tokohnya. (Mungkin itu sebabnya kenapa setiap bab dalam buku ini tidak dinamakan bab nomor ke sekian tapi mozaik ke sekian.) Menurutku buku ini sungguh luar biasa – 73 mozaik dalam 504 halaman – karena dia mencatat dengan sangat rinci tentang pelajaran kehidupan, tentang kebiasaan-kebiasaan Melayu Dalam di Pulau Belitong dan pulau-pulau sekitarnya, tentang sekian ratus pulau yang terhampar di Laut Karimata, tentang hikayat lanun (perompak atau bajak laut) di Selat Malaka, tentang kekayaan berbagai etnis dengan semua tradisi dan kebiasaannya yang sudah berinteraksi dalam rajutan sosial budaya sejak beratus tahun lalu, tentang aplikasi ilmu yang sesungguhnya – dan tentunya tentang cinta yang tidak pernah padam dimakan waktu dan tak pupus walau telah melintasi beberapa benua.

Dan jangan kecewa ya, hanya ada sedikit cerita tentang Maryamah Karpov, nama perempuan yang menjadi judul bukunya. Tapi kenapa dia menjadi judul buku ini, dan kenapa ada sub judul ‘mimpi-mimpi Lintang’, kupikir aku tahu kenapa. Andrea memang cerdas! *senyum*

Dari 73 mozaik tadi ada mozaik-mozaik berjudul puitis, seperti: waktu terperangkap dalam stoples; perempuan itu tak menangis; bulan pecah, malaikat bertaburan; cintanya sedahsyat terjangan badai; dekat sekali seperti nyawa. Ada juga mozaik-mozaik berjudul lucu, seperti: lelaki berwajah dangdut, perempuan saraf tegang.

Nah, banyak memang cerita menarik di dalam buku ini, aku kutipkan beberapa disini. Kalau mau tahu semuanya, ya beli dong bukunya (cuma tujuh puluh sembilan ribu rupiah saja) … atau boleh kupinjami. *senyum*

Mozaik 28 dan 53 adalah mozaik yang menurutku lucu bukan kepalang, sampai berderai-derai airmataku membacanya. *senyum*

Orang setempat rupanya sangat kreatif dalam membuat julukan bagi orang-orang. Umumnya nama julukan lebih sering dipakai dan lebih dikenal daripada nama lahir orang-orang yang bersangkutan. [Hlm 177-178] Orang Melayu amat asosiatif dan metaforik, penuh perlambang dan perumpamaan. Hal itu terefleksi pada hobi mereka berpantun dan menjuluki orang. Meski Islam jelas melarang panggilan-panggilan yang buruk, mereka nekad saja. Gelar-gelar aneh itu umumnya ditujukan untuk menghina. Karena itu, setiap orang berusaha menghindarinya. Namun, julukan dalam masyarakat kami seumpama penyakit cacar. Bisa menimpa siapa saja sembarang waktu. Ia agaknya telah menjadi bagian dari nasib orang Melayu. Julukan dapat berangkat dari hal yang amat sederhana, misalnya ciri-ciri fisik, atau lebih kompleks, dari profesi, kebiasaan, obsesi, atau kejadian.

Misalnya ada yang punya julukan Eksyen, Nur Gundala Putra Petir, Rofi’i Bruce Lee, Marsanip Sopir Ambulans, Berahim Harap Tenang Yunior, Marhaban Hormat Grak II, Rustam Simpan Pinjam, Zainul Helikopter, Muslimat Rambo, Tancap bin Seliman, Muharam Ini Budi, Mustahaq Davidson, Mustajab Charles Martin Smith, Mursyiddin 363, Muas Petang 30, Mahdi Sheriff, Kamsir si Buta dari Goa Hantu, Jumiadi Setengah Tiang, Mahmuddin Pelupa, Daud Biduan, Saderi Karbon, Muharam Buku Gambar, Modin Mahligai, Munawir Berita Buruk, Makruf Bui Bc.I.P., Munaf Katakanlah Padanya, Ramlah Biduanita, A Liong Koteka / A Liong Sunat, Fatimah Petai Cina, Midah Sesak Napas. Menurut ceritanya, orang Melayu tak ragu menulis di batu nisannya nama-nama julukan itu ketika yang bersangkutan meninggal dunia. *senyum*


I moved four posts for Maryamah Karpov to the posts of the same title in Another Bebeth on the Blog.

1 comment:

Mediansyah said...

Bagiku, hal yg bikin teringat selalu akan semua buku dari tetralogi laskar pelangi ialah: bahwa Andrea Hirata secara terbalik memaknai istilah "membonceng" dan "dibonceng" (ini sama seperti pada umumnya orang Belitong dan Bangka) Jadi kalau dia ngomong membonceng artinya si tokoh akan duduk di depan. Sedang kata dibonceng, berarti tokohnya (bagi Hirata) duduk di jok belakang. Dia sama sekali tidak tahu bahwa dalam bahasa Indonesia artinya justeru terbalik.