On December 10, the world celebrated the 60th Anniversary of the Universal Declaration of Human Rights. The landmark anniversary of this historic document gave us all cause for reflection; despite the significant advances in human rights over the last half century, violations continue to occur on a large scale.
Rights & Democracy also celebrated its 20th anniversary on December 10th by awarding its annual John Humphrey Freedom Award in honour of the Canadian jurist who wrote the first draft of the Declaration. This year, Zimbabwe Lawyers for Human Rights were honoured for their courageous efforts to bring about justice and democracy in their troubled land.
I invite you to visit the 20th anniversary brochure which presents our successes and continuing efforts in countries such as Zimbabwe and over 30 others around the world, including a number of special initiatives we have led since our establishment in 1988.
Our struggle for democracy and human rights will continue as Rights & Democracy embarks on a new chapter in its history of promoting the universal values of human rights and democracy on behalf of Canadians.
I would like to take this opportunity to thank all our dedicated employees and Board members in Canada and overseas, our partners in Africa, the Middle East, Latin America and the Caribbean, and Asia, as well as all our supporters and collaborators at home.
Best wishes to all for the holiday season, and we look forward to continuing our work together in 2009 and beyond.
Rémy M. Beauregard
Tuesday, December 23, 2008
Friday, December 05, 2008
Maryamah Karpov
Ini buku ke empat Andrea Hirata dalam tetralogi Laskar Pelangi, buku yang ditunggu-tunggu banyak orang. Bertumpuk-tumpuk buku ini tersedia di toko-toko buku bertepatan dengan peluncuran secara resmi buku ini. Aku sungguh ingin tahu apa isinya – sampul bukunya menjanjikan bahwa buku ini berisi semua hal tentang Laskar Pelangi, A Ling, Arai, Lintang, dan beberapa tokoh dalam buku-buku sebelumnya. Bahkan di atas judul Maryamah Karpov ada sub judul ‘mimpi-mimpi Lintang’.
Memang ada cerita tentang Lintang dan Arai tapi buku ini lebih bersifat sebagai mozaik berbagai cerita tokoh-tokohnya. (Mungkin itu sebabnya kenapa setiap bab dalam buku ini tidak dinamakan bab nomor ke sekian tapi mozaik ke sekian.) Menurutku buku ini sungguh luar biasa – 73 mozaik dalam 504 halaman – karena dia mencatat dengan sangat rinci tentang pelajaran kehidupan, tentang kebiasaan-kebiasaan Melayu Dalam di Pulau Belitong dan pulau-pulau sekitarnya, tentang sekian ratus pulau yang terhampar di Laut Karimata, tentang hikayat lanun (perompak atau bajak laut) di Selat Malaka, tentang kekayaan berbagai etnis dengan semua tradisi dan kebiasaannya yang sudah berinteraksi dalam rajutan sosial budaya sejak beratus tahun lalu, tentang aplikasi ilmu yang sesungguhnya – dan tentunya tentang cinta yang tidak pernah padam dimakan waktu dan tak pupus walau telah melintasi beberapa benua.
Dan jangan kecewa ya, hanya ada sedikit cerita tentang Maryamah Karpov, nama perempuan yang menjadi judul bukunya. Tapi kenapa dia menjadi judul buku ini, dan kenapa ada sub judul ‘mimpi-mimpi Lintang’, kupikir aku tahu kenapa. Andrea memang cerdas! *senyum*
Dari 73 mozaik tadi ada mozaik-mozaik berjudul puitis, seperti: waktu terperangkap dalam stoples; perempuan itu tak menangis; bulan pecah, malaikat bertaburan; cintanya sedahsyat terjangan badai; dekat sekali seperti nyawa. Ada juga mozaik-mozaik berjudul lucu, seperti: lelaki berwajah dangdut, perempuan saraf tegang.
Nah, banyak memang cerita menarik di dalam buku ini, aku kutipkan beberapa disini. Kalau mau tahu semuanya, ya beli dong bukunya (cuma tujuh puluh sembilan ribu rupiah saja) … atau boleh kupinjami. *senyum*
Mozaik 28 dan 53 adalah mozaik yang menurutku lucu bukan kepalang, sampai berderai-derai airmataku membacanya. *senyum*
Orang setempat rupanya sangat kreatif dalam membuat julukan bagi orang-orang. Umumnya nama julukan lebih sering dipakai dan lebih dikenal daripada nama lahir orang-orang yang bersangkutan. [Hlm 177-178] Orang Melayu amat asosiatif dan metaforik, penuh perlambang dan perumpamaan. Hal itu terefleksi pada hobi mereka berpantun dan menjuluki orang. Meski Islam jelas melarang panggilan-panggilan yang buruk, mereka nekad saja. Gelar-gelar aneh itu umumnya ditujukan untuk menghina. Karena itu, setiap orang berusaha menghindarinya. Namun, julukan dalam masyarakat kami seumpama penyakit cacar. Bisa menimpa siapa saja sembarang waktu. Ia agaknya telah menjadi bagian dari nasib orang Melayu. Julukan dapat berangkat dari hal yang amat sederhana, misalnya ciri-ciri fisik, atau lebih kompleks, dari profesi, kebiasaan, obsesi, atau kejadian.
Misalnya ada yang punya julukan Eksyen, Nur Gundala Putra Petir, Rofi’i Bruce Lee, Marsanip Sopir Ambulans, Berahim Harap Tenang Yunior, Marhaban Hormat Grak II, Rustam Simpan Pinjam, Zainul Helikopter, Muslimat Rambo, Tancap bin Seliman, Muharam Ini Budi, Mustahaq Davidson, Mustajab Charles Martin Smith, Mursyiddin 363, Muas Petang 30, Mahdi Sheriff, Kamsir si Buta dari Goa Hantu, Jumiadi Setengah Tiang, Mahmuddin Pelupa, Daud Biduan, Saderi Karbon, Muharam Buku Gambar, Modin Mahligai, Munawir Berita Buruk, Makruf Bui Bc.I.P., Munaf Katakanlah Padanya, Ramlah Biduanita, A Liong Koteka / A Liong Sunat, Fatimah Petai Cina, Midah Sesak Napas. Menurut ceritanya, orang Melayu tak ragu menulis di batu nisannya nama-nama julukan itu ketika yang bersangkutan meninggal dunia. *senyum*
I moved four posts for Maryamah Karpov to the posts of the same title in Another Bebeth on the Blog.
Memang ada cerita tentang Lintang dan Arai tapi buku ini lebih bersifat sebagai mozaik berbagai cerita tokoh-tokohnya. (Mungkin itu sebabnya kenapa setiap bab dalam buku ini tidak dinamakan bab nomor ke sekian tapi mozaik ke sekian.) Menurutku buku ini sungguh luar biasa – 73 mozaik dalam 504 halaman – karena dia mencatat dengan sangat rinci tentang pelajaran kehidupan, tentang kebiasaan-kebiasaan Melayu Dalam di Pulau Belitong dan pulau-pulau sekitarnya, tentang sekian ratus pulau yang terhampar di Laut Karimata, tentang hikayat lanun (perompak atau bajak laut) di Selat Malaka, tentang kekayaan berbagai etnis dengan semua tradisi dan kebiasaannya yang sudah berinteraksi dalam rajutan sosial budaya sejak beratus tahun lalu, tentang aplikasi ilmu yang sesungguhnya – dan tentunya tentang cinta yang tidak pernah padam dimakan waktu dan tak pupus walau telah melintasi beberapa benua.
Dan jangan kecewa ya, hanya ada sedikit cerita tentang Maryamah Karpov, nama perempuan yang menjadi judul bukunya. Tapi kenapa dia menjadi judul buku ini, dan kenapa ada sub judul ‘mimpi-mimpi Lintang’, kupikir aku tahu kenapa. Andrea memang cerdas! *senyum*
Dari 73 mozaik tadi ada mozaik-mozaik berjudul puitis, seperti: waktu terperangkap dalam stoples; perempuan itu tak menangis; bulan pecah, malaikat bertaburan; cintanya sedahsyat terjangan badai; dekat sekali seperti nyawa. Ada juga mozaik-mozaik berjudul lucu, seperti: lelaki berwajah dangdut, perempuan saraf tegang.
Nah, banyak memang cerita menarik di dalam buku ini, aku kutipkan beberapa disini. Kalau mau tahu semuanya, ya beli dong bukunya (cuma tujuh puluh sembilan ribu rupiah saja) … atau boleh kupinjami. *senyum*
Mozaik 28 dan 53 adalah mozaik yang menurutku lucu bukan kepalang, sampai berderai-derai airmataku membacanya. *senyum*
Orang setempat rupanya sangat kreatif dalam membuat julukan bagi orang-orang. Umumnya nama julukan lebih sering dipakai dan lebih dikenal daripada nama lahir orang-orang yang bersangkutan. [Hlm 177-178] Orang Melayu amat asosiatif dan metaforik, penuh perlambang dan perumpamaan. Hal itu terefleksi pada hobi mereka berpantun dan menjuluki orang. Meski Islam jelas melarang panggilan-panggilan yang buruk, mereka nekad saja. Gelar-gelar aneh itu umumnya ditujukan untuk menghina. Karena itu, setiap orang berusaha menghindarinya. Namun, julukan dalam masyarakat kami seumpama penyakit cacar. Bisa menimpa siapa saja sembarang waktu. Ia agaknya telah menjadi bagian dari nasib orang Melayu. Julukan dapat berangkat dari hal yang amat sederhana, misalnya ciri-ciri fisik, atau lebih kompleks, dari profesi, kebiasaan, obsesi, atau kejadian.
Misalnya ada yang punya julukan Eksyen, Nur Gundala Putra Petir, Rofi’i Bruce Lee, Marsanip Sopir Ambulans, Berahim Harap Tenang Yunior, Marhaban Hormat Grak II, Rustam Simpan Pinjam, Zainul Helikopter, Muslimat Rambo, Tancap bin Seliman, Muharam Ini Budi, Mustahaq Davidson, Mustajab Charles Martin Smith, Mursyiddin 363, Muas Petang 30, Mahdi Sheriff, Kamsir si Buta dari Goa Hantu, Jumiadi Setengah Tiang, Mahmuddin Pelupa, Daud Biduan, Saderi Karbon, Muharam Buku Gambar, Modin Mahligai, Munawir Berita Buruk, Makruf Bui Bc.I.P., Munaf Katakanlah Padanya, Ramlah Biduanita, A Liong Koteka / A Liong Sunat, Fatimah Petai Cina, Midah Sesak Napas. Menurut ceritanya, orang Melayu tak ragu menulis di batu nisannya nama-nama julukan itu ketika yang bersangkutan meninggal dunia. *senyum*
I moved four posts for Maryamah Karpov to the posts of the same title in Another Bebeth on the Blog.
Labels:
Book,
Indonesia,
Inspiration
Subscribe to:
Posts (Atom)