While I was waiting for my flight to KL this afternoon, I sat in Starbucks inside Soekarno Hatta International Airport with a strong black coffee. I still needed to do my "homework". I called my mom that I'd board soon.
Something on the paper cup caught my attention. Here it is...
Caring for those who grow our coffee.
Healthy beginnings in Indonesia: With our support, CARE has provided over 35,000 women and their infants with access to health services, immunization and nutrition education in southern Indonesia. Please join Starbucks in support of CARE by calling 1-800-521-CARE
I know Starbucks is one of healthy donors for CARE International.... but it didn't check its marketing statement thoroughly. The statement is bold alright, but it's wrong!
Is there any place such as southern Indonesia? Come on... Give me a break! You better educate your print agency or replace them with another that really knows about Indonesia.
Tuesday, May 08, 2007
Wednesday, May 02, 2007
The Indonesian's Way: Traffic Chaos
Traffic in Jakarta is one of the worst in the world. Sometimes you feel like screaming to all those jerks who think they own the roads -- bus, trucks, motorcycles. Avi one day sent me an SMS, about his frustration of Jakarta's traffic, especially the motorcycles. (Kata Vita sih itu motor-motor dogol!) They get on your nerve pretty easily - they get in your way, cut your way out of nowhere, turn left or right without giving signs, they run the traffic light (probably they become color blind when it comes to red). Kayaknya kalau mobil-mobil diperlengkapi dengan electric shock bagus juga tuh. Kalo mereka nyenggol mobil kita tanpa peduli dan pake melotot-melotot, mereka bisa langsung kelojotan kena setrum. Ada nggak ya teknologi seperti itu?
So, when I read one of the posting in The Jakarta Post's "Your Letter", I can't help but laugh at what Andrew said about the traffic.
Bahasa Indonesia
Learning Bahasa Indonesia can be confusing for foreigners, particularly in Jakarta. The language itself is not such a difficult thing of itself, it is the way the meanings of words seem to get twisted around.
For example, beginner Indonesian students would think that halte means "bus stop". In fact anyone who has traveled behind a bus on Jakarta's streets knows that the real meaning is something like "only place where you can be certain that the bus will not stop".
Perempatan is another one. This seems to mean intersection but for buses it really means "place where you can stop and wait until the bus is full while blocking all other traffic".
Traffic laws can also be a bit of a mystery. I am still not sure whether traffic lights apply to buses or not, because the same ones that wait at the intersection until they are full then move off regardless of whether the light is red. Motorcycles too seem to have a permanent "jalan terus (go ahead) as long as you can get away with it without being killed" permission under the road rules.
There have been many calls for addtional infrastructure to reduce traffic congestion, and the fact that it has not yet developed primarily due to lack of financing. I think there is a way for Indonesia to save money on transportation infrastructure.
Anyone who ahs traveled on a toll road will know that the left lane is surplus to requirements because nobody uses it. There is a saving there. Undisciplined drivers (i.e. 95% of them by my reckoning) prefer to stay in the right hand lanes even when traveling slowly. That is unless the traffic is absolutely macet (congested) when even the emergency stopping lane gets used, even though, or perhaps because, that is illegal. Indeed, if a left lane is in fact required perhaps it should also be designated as an emergency stopping lane and so more people would use it.
Indonesia, discipline is not a four letter word!
Sender: Andrew Keith (Jakarta)
As appeared on "Your Letters", The Jakarta Post, May 1, 2007
So... any conclusion?
So, when I read one of the posting in The Jakarta Post's "Your Letter", I can't help but laugh at what Andrew said about the traffic.
Bahasa Indonesia
Learning Bahasa Indonesia can be confusing for foreigners, particularly in Jakarta. The language itself is not such a difficult thing of itself, it is the way the meanings of words seem to get twisted around.
For example, beginner Indonesian students would think that halte means "bus stop". In fact anyone who has traveled behind a bus on Jakarta's streets knows that the real meaning is something like "only place where you can be certain that the bus will not stop".
Perempatan is another one. This seems to mean intersection but for buses it really means "place where you can stop and wait until the bus is full while blocking all other traffic".
Traffic laws can also be a bit of a mystery. I am still not sure whether traffic lights apply to buses or not, because the same ones that wait at the intersection until they are full then move off regardless of whether the light is red. Motorcycles too seem to have a permanent "jalan terus (go ahead) as long as you can get away with it without being killed" permission under the road rules.
There have been many calls for addtional infrastructure to reduce traffic congestion, and the fact that it has not yet developed primarily due to lack of financing. I think there is a way for Indonesia to save money on transportation infrastructure.
Anyone who ahs traveled on a toll road will know that the left lane is surplus to requirements because nobody uses it. There is a saving there. Undisciplined drivers (i.e. 95% of them by my reckoning) prefer to stay in the right hand lanes even when traveling slowly. That is unless the traffic is absolutely macet (congested) when even the emergency stopping lane gets used, even though, or perhaps because, that is illegal. Indeed, if a left lane is in fact required perhaps it should also be designated as an emergency stopping lane and so more people would use it.
Indonesia, discipline is not a four letter word!
Sender: Andrew Keith (Jakarta)
As appeared on "Your Letters", The Jakarta Post, May 1, 2007
So... any conclusion?
Labels:
Indonesia
Tuesday, May 01, 2007
Demi Orang-orang Rangkas Bitung
Puisi ini pernah dibacakan Rendra di depan anggota DPR pada Januari 1991. Waktu itu menurut berita koran ada beberapa anggota DPR yang menitikkan air mata (nggak tau air mata keharuan atau air mata putus asa atau air mata buaya). Masa itu masih jaman represi Orde Baru dan PDI belum berubah jadi PDI-P. Hari ini... sekitar 16 tahun setelah Rendra membacakan puisi ini, kok ya kita masih berkutat dengan masalah yang sama. Oh, my goodness!
Demi Orang-orang Rangkas Bitung
Tuan-tuan dan nyonya-nyonya,
Salam sejahtera!
Nama saya Multatuli,
datang dari masa lalu,
dahulu abdi Kerajaan Belanda,
ditugaskan di Rangkas Bitung,
ibu kota Lebak saat itu.
Suatu pengalaman yang penuh ujian
Rakyat ditindas oleh bupati mereka sendiri
Petani hanya bisa berkeringat,
tidak bisa tertawa,
dan hak pribadi diperkosa,
Demi kepentingan penjajahan.
Kerajaan Belanda bersekutu dengan kejahatan ini.
Sia-sia saya mencegahnya
Kalah dan tidak berdaya.
Saya telah menyaksikan
bagaimana keadilan telah dikalahkan
oleh para penguasa
dengan gaya yang anggun
dan sikap yang gagah.
Tanpa ada ungkapan kekejaman di wajah mereka
dengan bahasa yang rapi
mereka keluarkan keputusan-keputusan
yang tidak adil terhadap rakyat
Serta dengan budi bahasa yang halus
mereka saling membagi keuntungan
yang mereka dapat dari rakyat
yang kehilangan tanah dan ternaknya.
Ya, semuanya dilakukan
sebagai suatu kewajaran.
Dan bangsa kami di negeri Belanda
pada hari Minggu berpakaian rapi,
berdoa dengan tekun,
sesudah itu bersantap bersama,
menghayati gaya peradaban tinggi,
bersama sanak keluarga.
Menghindari perkataan kotor,
dan selalu berbicara
dalam tatabahasa yang patut,
sambil membanggakan keuntungan besar
di dalam perdagangan kopi,
sebagai hasil yang efisien
dari tanam paksa di tanah jajahan.
Dengan perasaan mulia dan bangga
kami berbicara
tentang suksesnya penaklukan dan penjajahan.
Ya, begitulah.
Kami selalu mencuci tangan sebelum makan
dan kami meletakkan serbet di pangkuan kami.
Dengan kemuliaan yang sama pula
kami memerintahkan para marsose
agar membantai orang-orang Maluku dan orang-orang Java
yang mencoba mempertahankan kedaulatan mereka!
Ya, kami adalah bangsa
yang tidak pernah lupa mencuci tangan.
Kita bisa menjadi sangat lelah
apabila merenungkan gambaran kemanusiaan
dewasa ini.
Orang Belanda dulu
juga mempunyai keluh-kesah yang sama
apabila berbicara tentang keadaan mereka
di jaman penjajahan oleh Spanyol
Mereka memberi nama yang buruk
kepada Pangeran Alba yang sangat menindas.
Tetapi apakah sekarang mereka lebih baik
dari Pangeran yang jahat itu?
Tentu tidak hanya saya
yang merasa gelisah
terhadap dawat hitam
yang menodai iman kita.
Pikiran yang lurus menjadi bercela
karena tidak pernah tuntas
dalam menangani keadilan.
Sementara waktu terus berjalan
dan terus memperlihatkan keluasan keadaannya.
Kita tidak bis seimbang
dalam menciptakan keluasan ruang
di dalam pemikiran kita.
Memang kita telah bisa berfikir
lebih canggih dan kompleks,
tetapi belum bisa lebih bebas
tanpa sekat-sekat
dibandingkan dengan keluasan waktu.
Bagaimana keadilan bisa ditangani
dengan pikiran yang selalu tersekat-sekat?
Ya, saya rasa kita memang lelah.
Tetapi kita tidak boleh berhenti di sini.
Bukankah keadaan keadilan di sini
belum lebih baik dari jaman penjajahan?
Dahulu rakyat Rangkas Bitung
tidak punya hak hukum
apabila mereka berhadapan kepentingan
dengan Adipati Lebak.
Sekarang
apakah rakyat kecil
sudah punya hak hukum
apabila mereka berhadapan kepentingan
dengan Adipati-adipati masa kini?
Dahulu
Adipati Lebak tidak bisa lolos dari hukum
Sekarang Adipati-adipati yang kejam dan serakah
apakah sudah bisa dituntut oleh hukum?
Bukankah kemerdekaan yang sempurna itu
adalah kemerdekaan negara dan bangsa?
Negara Anda sudah merdeka.
Tetapi apakah bangsa anda juga sudah merdeka?
Apakah bangsa tanpa hak-hak hukum
bisa disebut bangsa yang merdeka?
Para pemimpin negara-negara maju
bisa menitikkan air mata
apabila mereka berbicara tentang demokrasi
kepada para putranya.
Tetapi dari dalam kolam renang
dengan sangat santai dan penuh kewajaran
mereka mengangkat telpon
untk memberi dukungan
kepada para tiran dari negara lain
demi keuntungan-keuntungan materi bangsa mereka sendiri.
Oh, ya, Tuhan!
Saya mengatakan semua ini
sambil merasakan rasa lemas
yang menghinggapi seluruh tubuh saya.
Saya mencoba tetap bisa berdiri
meskipun rasanya
tulang-tulang sudah hilang dari tubuh saya
Saya sedang melawan perasaan sia-sia.
Saya melihat
negara-negara maju memberikan bantuan ekonomi
Dan sebagai hasilnya
banyak rakyat dari dunia ebrkembang
kehilangan tanah mereka,
supaya orang kaya bisa main golf,
atau supaya ada bendungan
yang memberikan sumber tenaga listrik
bagi industri dengan modal asing.
Dan para rakyat yang malang itu, ya Tuhan,
mendapat ganti rugi
untuk setiap meter persegi dari tanahnya
dengan uang yang sama nilainya
dengan satu pak sigaret bikinan Amerika.
Barangkali kehadiran saya sekarang
mulai tidak mengenakkan suasana?
Keadaan ini dulu sduah saya alami,
Apakah orang seperti saya harus dilanda oleh sejarah?
Tetapi ingat:
sementara sejarah selalu melahirkan
masalah ketidak-adilan,
tetapi ia juga selalu melahirkan
orang seperti saya.
Menyadari hal ini
tidak lagi saya merasa sia-sia atau tidak sia-sia.
Tuan-tuan, para penguasa dunia,
kita sama-sama memahami sejarah,
Senang atau tidak senang
ternyata tuan-tuan tidak bisa
meniadakan saya.
Nama saya Multatuli
saya bukan buku yang bisa dilarang dan dibakar.
Juga bukan kentang yang bisa dihancur-leburkan
Saya Multatuli
sebagian dari nurani tuan-tuan sendiri.
Oleh karena itu
saya tidak bisa disama-ratakan dengan tanah.
Tuan-tuan, para penguasan dunia,
apabila ada keadaan yang celaka,
apakah perlu ditambah celaka lagi?
Pada intinya inilah pertanyaan sejarah
kepada anda semua.
Tuan-tuan dan nyonya-nyonya,
yang hadir di sini,
setelah memahami sejarah,
saya betul tidak lagi merasa sepi.
Dan memang tidak relevan lagi bagi saya
untuk merasa sia-sia atau tidak sia-sia,
sebab jelaslah sudah kewajiban saya,
Ialah: hadir dan mengalir.
Tuan-tuan dan nyonya-nyonya,
terimakasih.
Bojong Gede
5 November 1990
Rendra
Demi Orang-orang Rangkas Bitung
Tuan-tuan dan nyonya-nyonya,
Salam sejahtera!
Nama saya Multatuli,
datang dari masa lalu,
dahulu abdi Kerajaan Belanda,
ditugaskan di Rangkas Bitung,
ibu kota Lebak saat itu.
Suatu pengalaman yang penuh ujian
Rakyat ditindas oleh bupati mereka sendiri
Petani hanya bisa berkeringat,
tidak bisa tertawa,
dan hak pribadi diperkosa,
Demi kepentingan penjajahan.
Kerajaan Belanda bersekutu dengan kejahatan ini.
Sia-sia saya mencegahnya
Kalah dan tidak berdaya.
Saya telah menyaksikan
bagaimana keadilan telah dikalahkan
oleh para penguasa
dengan gaya yang anggun
dan sikap yang gagah.
Tanpa ada ungkapan kekejaman di wajah mereka
dengan bahasa yang rapi
mereka keluarkan keputusan-keputusan
yang tidak adil terhadap rakyat
Serta dengan budi bahasa yang halus
mereka saling membagi keuntungan
yang mereka dapat dari rakyat
yang kehilangan tanah dan ternaknya.
Ya, semuanya dilakukan
sebagai suatu kewajaran.
Dan bangsa kami di negeri Belanda
pada hari Minggu berpakaian rapi,
berdoa dengan tekun,
sesudah itu bersantap bersama,
menghayati gaya peradaban tinggi,
bersama sanak keluarga.
Menghindari perkataan kotor,
dan selalu berbicara
dalam tatabahasa yang patut,
sambil membanggakan keuntungan besar
di dalam perdagangan kopi,
sebagai hasil yang efisien
dari tanam paksa di tanah jajahan.
Dengan perasaan mulia dan bangga
kami berbicara
tentang suksesnya penaklukan dan penjajahan.
Ya, begitulah.
Kami selalu mencuci tangan sebelum makan
dan kami meletakkan serbet di pangkuan kami.
Dengan kemuliaan yang sama pula
kami memerintahkan para marsose
agar membantai orang-orang Maluku dan orang-orang Java
yang mencoba mempertahankan kedaulatan mereka!
Ya, kami adalah bangsa
yang tidak pernah lupa mencuci tangan.
Kita bisa menjadi sangat lelah
apabila merenungkan gambaran kemanusiaan
dewasa ini.
Orang Belanda dulu
juga mempunyai keluh-kesah yang sama
apabila berbicara tentang keadaan mereka
di jaman penjajahan oleh Spanyol
Mereka memberi nama yang buruk
kepada Pangeran Alba yang sangat menindas.
Tetapi apakah sekarang mereka lebih baik
dari Pangeran yang jahat itu?
Tentu tidak hanya saya
yang merasa gelisah
terhadap dawat hitam
yang menodai iman kita.
Pikiran yang lurus menjadi bercela
karena tidak pernah tuntas
dalam menangani keadilan.
Sementara waktu terus berjalan
dan terus memperlihatkan keluasan keadaannya.
Kita tidak bis seimbang
dalam menciptakan keluasan ruang
di dalam pemikiran kita.
Memang kita telah bisa berfikir
lebih canggih dan kompleks,
tetapi belum bisa lebih bebas
tanpa sekat-sekat
dibandingkan dengan keluasan waktu.
Bagaimana keadilan bisa ditangani
dengan pikiran yang selalu tersekat-sekat?
Ya, saya rasa kita memang lelah.
Tetapi kita tidak boleh berhenti di sini.
Bukankah keadaan keadilan di sini
belum lebih baik dari jaman penjajahan?
Dahulu rakyat Rangkas Bitung
tidak punya hak hukum
apabila mereka berhadapan kepentingan
dengan Adipati Lebak.
Sekarang
apakah rakyat kecil
sudah punya hak hukum
apabila mereka berhadapan kepentingan
dengan Adipati-adipati masa kini?
Dahulu
Adipati Lebak tidak bisa lolos dari hukum
Sekarang Adipati-adipati yang kejam dan serakah
apakah sudah bisa dituntut oleh hukum?
Bukankah kemerdekaan yang sempurna itu
adalah kemerdekaan negara dan bangsa?
Negara Anda sudah merdeka.
Tetapi apakah bangsa anda juga sudah merdeka?
Apakah bangsa tanpa hak-hak hukum
bisa disebut bangsa yang merdeka?
Para pemimpin negara-negara maju
bisa menitikkan air mata
apabila mereka berbicara tentang demokrasi
kepada para putranya.
Tetapi dari dalam kolam renang
dengan sangat santai dan penuh kewajaran
mereka mengangkat telpon
untk memberi dukungan
kepada para tiran dari negara lain
demi keuntungan-keuntungan materi bangsa mereka sendiri.
Oh, ya, Tuhan!
Saya mengatakan semua ini
sambil merasakan rasa lemas
yang menghinggapi seluruh tubuh saya.
Saya mencoba tetap bisa berdiri
meskipun rasanya
tulang-tulang sudah hilang dari tubuh saya
Saya sedang melawan perasaan sia-sia.
Saya melihat
negara-negara maju memberikan bantuan ekonomi
Dan sebagai hasilnya
banyak rakyat dari dunia ebrkembang
kehilangan tanah mereka,
supaya orang kaya bisa main golf,
atau supaya ada bendungan
yang memberikan sumber tenaga listrik
bagi industri dengan modal asing.
Dan para rakyat yang malang itu, ya Tuhan,
mendapat ganti rugi
untuk setiap meter persegi dari tanahnya
dengan uang yang sama nilainya
dengan satu pak sigaret bikinan Amerika.
Barangkali kehadiran saya sekarang
mulai tidak mengenakkan suasana?
Keadaan ini dulu sduah saya alami,
Apakah orang seperti saya harus dilanda oleh sejarah?
Tetapi ingat:
sementara sejarah selalu melahirkan
masalah ketidak-adilan,
tetapi ia juga selalu melahirkan
orang seperti saya.
Menyadari hal ini
tidak lagi saya merasa sia-sia atau tidak sia-sia.
Tuan-tuan, para penguasa dunia,
kita sama-sama memahami sejarah,
Senang atau tidak senang
ternyata tuan-tuan tidak bisa
meniadakan saya.
Nama saya Multatuli
saya bukan buku yang bisa dilarang dan dibakar.
Juga bukan kentang yang bisa dihancur-leburkan
Saya Multatuli
sebagian dari nurani tuan-tuan sendiri.
Oleh karena itu
saya tidak bisa disama-ratakan dengan tanah.
Tuan-tuan, para penguasan dunia,
apabila ada keadaan yang celaka,
apakah perlu ditambah celaka lagi?
Pada intinya inilah pertanyaan sejarah
kepada anda semua.
Tuan-tuan dan nyonya-nyonya,
yang hadir di sini,
setelah memahami sejarah,
saya betul tidak lagi merasa sepi.
Dan memang tidak relevan lagi bagi saya
untuk merasa sia-sia atau tidak sia-sia,
sebab jelaslah sudah kewajiban saya,
Ialah: hadir dan mengalir.
Tuan-tuan dan nyonya-nyonya,
terimakasih.
Bojong Gede
5 November 1990
Rendra
Labels:
Contemplation,
Indonesia,
Poem
Subscribe to:
Posts (Atom)