Sunday, April 22, 2007

Indonesia's Talent: Anne Avantie

I kept changing the remote to find something worthy to watch this weekend. I stopped at MetroTV because it caught my attention. It’s always nice to watch models wearing kebaya – traditional or modern. Most of them were body-hugging kebayas with elegant design and intricate details. Later on, I knew that it’s a celebration of Anne Avantie’s fifteen year dedication to kebaya and the launching of her book titled “Anne Avantie: Aku, Anugerah, dan Kebaya” in the ballroom of Hotel Mulia on April 19, 2007. Some of the kebayas looked like a mix of Javanese, Chinese, and Japanese designs. My goodness – those kebayas must be a labour of her love. They were so beautiful!

According to Wikipedia, Kebaya
are believed to originate from China hundreds of years ago. On the island of Java before 1600, kebayas were sacred clothing to be worn only by members of the Javanese monarchy. Now kebayas are very popular among Indonesian and Malaysian women.

Anne Avantie is one of the best Asian fashion designer, the one who brings traditional kebaya style to modern fashion design. For some designers, Anne Avantine is a miracle. Her design make traditional and ethnic clothing become luxurious fashions.

Many celebrities go to her to get their wedding gowns made. The latest one was Siti Nurhaliza – the famous Malaysia’s singer. Anne designed a special fuchsia and gold lace and songket Palembang for her wedding.


What really touched me though was her commitment and zeal to make kebaya – her style of kebaya, at least – to be liked and appreciated by all levels of Indonesians. Well, I perceive kebaya as expensive outfit by looking at the famous designers who create it – from Biyan Wanaatmadja to Adjie Notonegoro, Ghea Sukasah, and Josephine "Obin" Werratie Komara of BIN House. Yet, Anne accepted any radio invitation – big or small – as a channel to communicate and spread her skills in kebaya desigining… that kebaya is not expensive, that anybody can afford to wear her-style of kebaya.

Doing something for the country is the reason that motivates fashion designer Anne Avantie. She said she has set aside some time for social activities. For that reason, she decided not to move to Jakarta and remains in Semarang. The main reason is because since 2000 she has committed to helping children suffering from hydrocephalus, a pathologic condition affecting brains, which caused excessive liquid in the brain.

En, kok ya kebetulan… hari-hari ini orang pada merayakan Hari Kartini…


Follow this link (Anugerah Kebaya Anne Avantie) to read more on the above event, or read on for those of you with limited internet access. And this one too.


Anugerah Kebaya Anne Avantie
Kompas, April 22, 2007

By: Ninuk M Pambudy & Ilham Khoiri

Saat jumpa pers serta peluncuran buku Anne Avanti, ”Aku, Anugerah, dan Kebaya”, Kamis (19/4) sore menjelang pergelaran dengan tajuk sama, menjawab pertanyaan seorang wartawan, Anne menjelaskan panjang lebar pro dan kontra seputar kebaya kreasinya.

Bukan sekali ini dia mendapat pertanyaan serupa sejak memilih kebaya sebagai arena kerjanya pada tahun 1999. Anne memilih untuk terus dengan apa yang dia yakini. Dia mengatakan, tidak ingin dibandingkan dan dikritik tidak ikut pakem.

”Biarlah saya diberi kemerdekaan mencipta,” katanya berulang kali.

Melihat pergelaran tunggal pertama Anne yang asal Semarang itu, mau tak mau pertanyaan tentang apa kebaya dan sejauh mana kebaya dapat dikreasikan sehingga masih tetap dapat disebut kebaya kembali muncul.

Anne memunculkan kebaya dalam berbagai bentuknya dengan detail beragam. Variasi lahir dari panjang dan pendek kebaya, detail di sekitar kerah kebaya yang dibiarkan polos atau dihiasi ornamen bunga, permainan payet, bordir, manik yang berkilatan dan membentuk motif bunga atau abstrak.

Lebih separuh dari 65 buah karya yang digelar di Hotel Mulia, Jakarta, dengan berbagai variasi detailnya memberi kesan kuat tentang kebaya, baju atas yang keberadaannya diperkirakan sejarawan Denys Lombard (Nusa Jawa: Silang Budaya Buku 2, Gramedia Pustaka Utama, 1996) bermula pada abad ke-15 dan 16.

Terlepas dari kesungguhan Anne mengkreasikan kebaya serta klaim Anne karyanya ditiru penjahit di mana-mana dan mengangkat kembali pamor kebaya, beberapa rancangan Anne memasuki daerah abu-abu antara kebaya atau gaun/blus malam.

Pakaian yang diperagakan model berkulit putih dengan lengan balon berkerah V berikat pinggang dan padanan rok panjang renda bertumpuk, misalnya, lebih mengesankan gaun malam dengan bau pakaian Spanyol yang kuat. Begitu pula baju yang dikenakan Caroline Zachrie dengan rok tumpuk dilengkapi payung senada, lebih mengesankan gaun dari masa Victoria. Atau atasan yang dipakai Aline ketika berjalan bersama mertuanya, Rima Melati, dengan ikat pinggang lebar berbahan kulit lebih mengesankan blus biasa.


Konteks ruang dan waktu

Upaya Anne membuat kebaya tampil sesuai semangat zaman patut dihargai. Apalagi pakaian adalah cerminan kondisi sosial budaya masyarakatnya yang selalu berubah.

Peneliti batik Rens Heringa dalam tulisannya, ”Batik Pasisir as Mestizo Costume” (dalam Fabric of Enchantment, Batik from the North Coast of Java, 1996) memperlihatkan evolusi kebaya bahkan asal kata kebaya. Diduga istilah kebaya berhubungan dengan kata cambay, walaupun ini sebetulnya lebih menunjuk nama cita (kain kapas bermotif bunga) yang diimpor dari Pelabuhan Cambay di India. Nama ini diberikan untuk blus longgar buka depan yang dipakai perempuan dan laki-laki pada abad ke-15.

Meskipun istilah kebaya menurut Heringa berasal dari kata Persia untuk pakaian seperti ini, cabay, tetapi imigran Muslim dari China pada abad ke-15 mungkin juga berperan memperkenalkan kebaya, mengingat baju longgar berlengan panjang buka depan yang dikatupkan pada tepi-tepinya mirip dengan baju China bei-zi. Baju ini digunakan perempuan dari kalangan sosial bawah pada masa Dinasti Ming (abad ke-14 hingga ke-17).


Perjalanan waktu

Perjalanan kebaya dari bentuk awalnya menjadi busana yang dikenakan banyak masyarakat di Nusantara saat ini adalah perubahan karena campur tangan orang-orang yang merasa perlu mengubah kebaya sesuai kebutuhan waktu.

Perubahan dari kebaya longgar menjadi bentuk jam pasir mengikuti bentuk tubuh terjadi setelah Indonesia merdeka dan dibantu oleh perempuan sendiri yang tidak keberatan badannya dibungkus korset demi bentuk seperti lebah secara instan. Sebelum itu, kebaya longgar yang dikenakan dengan kutang katun menjadi pakaian sehari-hari karena nyaman dan cocok untuk iklim tropis.

Materi kebaya pun berevolusi. Bila awalnya cita adalah bahan kebaya, pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 perempuan China Peranakan dan Indo Eropa kelas atas menghias kebaya mereka dengan renda.

Bentuk kebaya pun terus berkembang, menggunakan kutubaru, ditangkupkan langsung di depan, ada yang berkerah tegak. Panjang pun berubah. Bila awalnya mencapai mata kaki, kebaya kian memendek mencapai tengah betis, tengah paha, atau di bawah pinggul seperti terlihat dalam buku Indonesia Indah, Busana Tradisional (Yayasan Harapan Kita, tanpa tahun penerbitan).

Bila kini Anne Avantie mengatakan tidak ingin dibandingkan dan tidak ingin dikritik tidak mengikuti pakem kebaya, dia ada benarnya, sebab pakaian akan selalu berubah dan apalagi ada tantangan globalisasi.

”Kebaya memang selalu berubah dari zaman ke zaman. Jadi, terobosan Anne mesti dipahami sebagai bagian dari perkembangan kebaya modern. Anne membuat kebayanya tidak main-main dan orang percaya kepada dia, antara lain karena dia pandai bangun jaringan dan rendah hati,” kata bekas model Okky Asokawati. Pendapat senada juga disampaikan penyanyi Titiek Puspa dan bekas model Dewi Motik.


Proses Kreatif Kebaya Multifungsi

Upaya Anne mengolah kebaya muncul misalnya pada bagian akhir pada kebaya gim dengan hiasan benang emas berbahan beludru hitam yang dikenakan Desi. Menurut Anne, ini adalah upayanya agar orang melirik lagi kebaya beludru yang pernah populer tahun 1950-an.

Meskipun demikian, tetap perlu memerhatikan asal-usul dan konteks budaya ketika pakaian yang saat ini diklaim sebagai busana perempuan Indonesia dan Malaysia itu akan dimodifikasi. Kebaya dalam konteks Indonesia mendapat sebutan kebaya ketika dia dipadukan dengan kain panjang atau sarung. Tanpa pendukung sarung atau kain panjang, kebaya adalah blus biasa saja. Dan, tidak dapat dihindari kesan gaun malam pun muncul.

Anne Avantie yang dihubungi Sabtu mengakui, memang kebaya di luar konteks budayanya akan menjadi blus biasa. Tetapi, dia mengaku melakukan itu setelah melalui proses berpikir yang panjang. Menurut Anne, dia melihat ke tahun 2010 bahwa kebaya harus dapat ditransformasi menjadi bentuk yang dapat diterima secara internasional. Salah satu upaya adalah dengan menyesuaikan tampilan kebaya menurut kebutuhan pemakai dan multifungsi.

”Lengan yang menggelembung seperti dipakai Caroline Zachri itu saya rekat memakai pita dan bisa dilepas. Di dalamnya lengan dibuat dari tulle. Tampilannya memang jadi seperti noni Belanda ketika dipadu dengan rok tumpuk (dan payung). Juga bagian leher pada kebaya kartini dapat dilepas. Lalu yang dipakai Aline, ikat pinggangnya dari kulit. Dengan begitu orang dapat memakai kebaya sesuai acara yang dihadiri atau sesuai budaya mereka,” tutur Anne.

”Saya tetap menghormati kebaya yang pakem, karena itu tidak saya apa-apakan. Tetapi, saya berpikir jauh bahwa kebaya itu juga dapat diterima di Eropa, misalnya, sehingga harus dapat sesuai dengan kehidupan mereka,” tambah Anne.

Memang hal ini akan terus menjadi wacana, sejauh mana proses kreatif dapat dilakukan tanpa kehilangan konteks.

”Muncul pertanyaan sejauh mana proses kreatif dapat dilakukan. Mungkin penyebutan pakaian Indonesia dapat lebih luas menampung proses kreatif itu,” kata perancang yang pemain film dan sinetron Robby Tumewu. (Ninuk M Pambudy)



Anne Avantie Mewujudkan "Djiwakoe"…
Kompas Minggu, August 3, 2003

Hotel Candi Baru yang kuno dibangun tahun 1919 dan menjadi hotel sejak zaman pendudukan Belanda, hari Sabtu (26/7) bermandikan cahaya. Keadaan itu memang lain dari biasanya karena pada hari-hari sebelumnya hotel yang dahulu bernama Hotel Billevu itu terlihat "buram", apalagi bila dibandingkan dengan sejumlah hotel baru yang banyak bermunculan di Kota Semarang.

Malam itu, Anne Avantie-desainer ternama Kota Semarang-merayakan 14 tahun perjalanannya sebagai perancang busana di Hotel Candi Baru. Dia memilih hotel nuansa kuno, berornamen artistik pada dindingnya, dan berberanda untuk melengkapi perjalanan penampilan karyanya diberi tema "Djiwakoe". Tema sengaja dituliskan tata bahasa lama itu dikaitkan dengan kekunoan lokasi yang dipilih.

Anne mengakui, memang ingin menampilkan eksotika dalam pergelarannya. Sebab itu, dia memilih sebuah hotel kuno sebagai tempat memamerkan 45 karyanya. Dan kali ini bukan hanya kebaya yang ditampilkan, melainkan juga sejumlah rancangan pakaian yang lebih eksotik, bahkan seksi. Dia menampilkan sejumlah rancangan pakaian funky yang hanya cocok dipakai oleh remaja putri perkotaan.

"Selama ini, saya memang lebih dikenal sebagai perancang yang menonjol di pakaian kebaya. Tetapi, bukan berarti saya tidak bisa merancang dan menampilkan jenis pakaian yang lain. Sekarang, saya mengikuti keinginan jiwa saja. Karena merancang busana itu kan harus dengan jiwa. Bukan sekadar pesanan. Karena itu, saya ingin begitu saja mengikuti jiwa," jelas Anne. Karena itu, pergelaran 14 tahun karyanya bertemakan Djiwakoe.

Walaupun merayakan perjalanan karyanya, tetapi malam itu Anne Avantie tidak sendirian. Dia melakukan kolaborasi dengan sejumlah perancang lain, seperti Musa Widyatmodjo, Popy Dharsono, Yongky Komaladi, dan Elisabeth Wahyu dari Jakarta, serta Ardianto Pranata dan Afif Syakur dari Yogyakarta. Perancang dari Jakarta dan Yogyakarta itu "menyumbangkan" karyanya berupa kain khas dan batik, sepatu, maupun aksesori lain. Rancangan mereka "memperkuat" busana karya Anne Avantie.

Mengapa Anne tetap berkolaborasi? Dia menjelaskan, saat ini bersama dengan desainer lain dirinya bergabung dalam kelompok yang dinamakan The Catwalk. "Kami ingin sekaligus mengenalkan keberadaan kelompok ini sebagai bagian dari mengembangkan dunia fashion di Indonesia," jelasnya.

Pergelaran "Djiwakoe" berlangsung dalam tiga sequence dengan koreografer Ananta Khanapi. Penyanyi Yuni Shara serta pembawa acara Alya Rohali dan Bagas pun mengenakan pakaian karya Anne Avantie, mulai dari kebaya yang dipadukan dengan kain batik yang dimodifikasi maupun busana malam yang lebih "fresh". Yuni pun mengakui, selama ini menjadi pelanggan karya Anne Avantie, yang juga membuka butik di Jakarta.

Pada sequence pertama, Anne menampilkan 16 busana rancangannya, terutama berupa kebaya. Jenis pakaian inilah yang selama ini menjadi keunggulannya. Akan tetapi, ia tidak sendirian menampilkan karyanya, melainkan kebaya yang ditampilkan peragawati senior, seperti Dona Harun, Ira Duati, Catherine Wilson, Aline, Arzety, dan Endita itu dipadukan dengan kain karya Musa, batik rancangan Ardianto atau Afif, dan karya lain dari Poppy Dharsono, Yongky, maupun Elisabeth.

"Saya suka kebaya karya Anne Avantie. Kreatif. Lihat saja ini," ungkap Alya Rohali, yang malam itu memakai kebaya warna merah dengan bukaan dada yang asimetris. Ny A Mbay, istri seorang perwira tinggi Polri, yang membuka pergelaran itu pun mengaku merasa pas dengan kebaya karya Anne. Malam itu, ia mengenakan kebaya renda berwarna putih.

Pada sequence kedua, Anne menampilkan 15 busana rancangannya yang lebih ekspresif. Pada bagian ini, hampir tidak ada kebaya-sebagai kekuatan Anne Avantie-yang ditampilkan. Justru desain yang memadukan gaya ekstrem yang dimunculkan. Busana funky dengan lebih menonjolkan eksotisme yang lebih mendominasi. Ini karya jiwa dan hati Anne Avantie.

"Saya mengikuti hati dan jiwa saja dalam berkarya. Sekarang saya memang merasa lebih menjadi diri sendiri. Tidak lagi terpengaruh untuk membuat karya yang mirip dengan karya orang lain. Saya mengikuti hati saja," kata Anne lagi.

Anne kembali menampilkan karyanya sebanyak 14 busana, yang sebagian besar merupakan kebaya artistik. Inilah unggulannya. Kebaya yang dimodifikasi menjadi gaun malam itu tidak hanya berbahan baku kain, melainkan juga dibuat dari bulu, bebatuan, dan serat alam. Rancangan itu tampak feminin.

Sebanyak 45 karya rancangan yang diperagakan malam itu memang sangatlah beragam. Perjalanan jiwa Anne Avantie, paling tidak malam itu, memukau ratusan pengunjung yang setia mengikuti pergelaran sampai usai. (TRA)


6 comments:

Anonymous said...

Dimana bisa beli koleksi Anne...berapa harga koleksinya rata rata ?

trimakasih
Panggraini@yahoo.com

Seto Parama Artho said...

Hai Bebeth, salam kenal! senang baca tulisanmu. Hebat!! Tentang Anne, apakah saya bisa dapat kontak dia. Saya dengar dia salah1 pendonor anak2 penderita hydrosephalus dan saya butuh bantuannya.

seto
seto_paramaartho@yahoo.com

GG said...
This comment has been removed by the author.
GG said...
This comment has been removed by the author.
GG said...

Hai... lam kenal yah!!!
aq minta tolg alamt ato nomor telp Anne. krn aq buth banget bantuan dia. aq denger2 dia donatur penderita hydrosephalus.


Thx yah
ghex_gg@yahoo.co.id

Ayla said...

Hey Bebeth!
So nice of you to write something about this event! I worked at Anne's for one month and after that I helped organize the whole event...nice to hear that you enjoyed it so much :D

Greets Ayla